detikSport
Follow detikSport Linkedin share
Kamis, 10 Nov 2016 14:59 WIB

Rencana Ahok Dongkrak Prestasi Atlet DKI: Bubarkan Pelatda, Hidupkan Klub

Femi Diah - detikSport
Foto: Hasan Alhabshy Foto: Hasan Alhabshy
Jakarta - Calon gubernur petahana Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), berencana merombak sistem latihan atlet elite ibukota. Seperti apa?

Jakarta tak berhasil mempertahankan gelar juara umum Pekan Olahraga Nasional (PON) 2016 di Jawa Barat. Kontingen ibukota berada di urutan ketiga dengan koleksi 132 emas, 124 perak, dan 118 perunggu. Juara umum diraih Jabar dan runner-up ditempati Jawa Timur.

Ahok menilai pemusatan latihan daerah yang digunakan KONI DKI Jakarta untuk menggodok atlet menuju PON kurang ideal. Dia pun berencana untuk mengembalikan atlet agar digenjot di klub masing-masing. Bukan cuma emas PON yang jadi target, tapi Ahok bertekad untuk berkontribusi menambah raihan emas Indonesia pada Olimpiade 2020.

"Saya membuat konsep berbeda, yang membuat orang KONI agak marah kepada saya. Saya sampaikan buat apa habiskan ratusan miliar di KONI untuk pelatda? Saya tanya ada berapa medali emas Olimpaide yang didapatkan (kontingen Indonesia dari atlet DKI)?" ucap Ahok di kantor detikcom, Kamis (10/11/2016).

"Terus saya tanya lagi kamu dapat update atlet yang juara dari mana? Apakah dari cabor? Bukan. Dari klub? Ya, semua dari klub. Kamu sepakat enggak kenapa di luar negeri bisa maju? Karena (klub) profesional. Klubnya profesional karena bisa jual iklan. Apakah klub kita bisa? Enggak bisa. Kalau enggak bisa berarti harus modalin klub," ucap dia.

Bagaimana caranya? Modal itu didapatkan klub dari atlet-atlet juga. Klub yang berhasil menelorkan atlet peraih emas PON, SEA Games, Asian Games, turnamen internasional individu, dan Olimpiade akan diganjar bonus. Nah, bonus itulah yang diharapkan dapat menghidupi klub nantinya.

"Gampang itu. Atlet yang bisa juara PON kasih Rp 1 miliar, SEA Games Rp 2 miliar, Asian Games Rp 3 miliar, juara internasional Rp 4 miliar, Olimpiade Rp 5 miliar. Kemudian muncul pertanyaan klub bisa jahat dong, Pak? Kalau klub-nya jahat kira-kira atlet mau bentuk klub enggak? Tentunya atlet akan bentuk klub sendiri. Kalau klub jahat, atlet akan kabur. Si atlet akan bilang kalau klub tidak ada atlet maka klub itu akan habis. Itu salah satu solusi," tutur dia.

Selain memberikan bonus kepada klub, Ahok akan menyediakan markas untuk latihan klub. Di antaranya ada di Stadion Rawamangun, Jakarta Timur sebagai alternatif setelah pembangunan Stadion Taman BMW ditunda karena membutuhkan dana yang besar dan terbentur periodisasi pergantian masa jabatan gubernur pada tahun 2017.

"Awalnya kami siapkan markas di Stadion Taman BMW, tapi karena duit tidak boleh multi year, karena duit gubernur, ya sudah kami bangun di Lapangan Banteng. Kami siapkan lapangan sintetis dengan standar internasional. Akhir tahun ini semua selesai," ucap dia.

(fem/a2s)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detiksport.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com