DetikSport
Kamis 14 September 2017, 00:46 WIB

Menpora Ingin Tempat Latihan Bekas PON Dimaksimalkan, Ini Pandangan Pengurus Cabor

Mercy Raya - detikSport
Menpora Ingin Tempat Latihan Bekas PON Dimaksimalkan, Ini Pandangan Pengurus Cabor Foto: PB PON/ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A.
Jakarta - Indonesia mematok target 10 besar di Asian Games 2018. Demi meraihnya, para atlet didorong memaksimalkan fasilitas olahraga bekas Pekan Olahraga Nasional (PON).

Cara itu dinilai Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi, selain dapat membantu menciptakan atmosfer berlatih yang bagus, juga mempermudah pendistribusian kebutuhan atlet, baik itu nutrisi maupun peralatan latihan dan tanding yang selama ini menjadi momok jelang ajang multievent.

Sebagaimana diketahui, kegagalan Indonesia di SEA Games 2017 Kuala Lumpur salah satunya disebabkan terhambatnya dukungan-dukungan untuk atlet. Mulai dari uang saku, peralatan latihan dan tanding yang terlambat, hingga sistem pengajuan uji coba yang menjelimet.

Sekretaris Jenderal PB PASI Tigor Tanjung mengapresiasi niat dari pemerintah untuk melakukan perubahan demi tercapainya target 10 besar di Asian Games 2018. Hanya saja, dia mengingatkan perlu juga dipikirkan kepentingan atlet-atlet lainnya.

"Kami sebenarnya oke-oke saja (jika memang harus pindah ke tempat latihan bekas PON). Toh, kami sudah menggunakan fasilitas PON yang di Cibinong, walau itu inisiatif kami sendiri setelah keluar dari Stadion Madya. Tapi atlet-atlet ini kan punya tujuan juga, artinya kalau mau memindahkan harusnya ada solusi lain," kata Tigor kepada detikSport, Rabu (13/9/2017).

"Contohnya seperti sekarang kami memilih stadion Rawamangun karena masih ada atlet kami yang bersekolah di Ragunan. Sementara atlet-atlet yang tidak sekolah di Ragunan bisa ke Cibinong," lanjutnya.

"Begitu juga ketika kami pilih Pengalangan, karena pelari-pelari jarak jauh untuk meningkatkan Vo2max itu perlu berlatih yang tekanannya tinggi. Semakin tinggi daratan maka kandungan oksigen rendah, itu bagus buat atlet. Sedangkan di Bali, baik Maria Natalia Londa dan pelatihnya tidak bisa meninggalkan Bali, karena beberapa hal salah satunya keluarga."

"Sebenarnya kalau bicara ideal, Stadion Madya sudah memenuhi itu. Sebab, kebanyakan atlet-atlet kami masih banyak yang sekolah di Jakarta, transportasi pun mudah, atlet menginap di sana, kantor PB PASI di sana, atlet belajar di sana, medis, psikolog, semua terkumpul jadi satu dan jauh lebih baik. Tapi karena direnovasi makanya kami harus cari alternatif lain," tambahnya.

Tigor mengungkapkan bahwa pemusatan atlet tak selalu jadi pilihan terbaik, karena ada banyak hal yang perlu dipertimbangkan. Kebutuhan dan kepentingan para atlet harus benar-benar diperhatikan, tak bisa semuanya dipukul rata.

"Jika bicara pembinaan olahraga, harusnya dilihat dulu dari sisi pengurus cabornya. Jangan buat gagasan-gagasan , 'oh kita pusatkan di sini, atau pusatkan di sana'. Dilihat dulu, di sana bagaimana kateristiknya, kebutuhannya apa, harusnya berpusat pada cabornya. Kita ini kan selalu seperti itu. Tiba-tiba buat ini, buat itu, tapi tak cocok juga," katanya.

"Seperti Hambalang, jika tempat itu jadi, belum tentu termanfaatkan maksimal. Karena yang saya katakan tadi, bagaimana jika anaknya sekolah di Ragunan? Kecuali pemerintah sudah menyediakan di sana sekolah. Pemerintah sudah menyiapkan segala fasilitas supaya mereka tidak terhambat sekolahnya. Coba contoh Emilia, dia sekolah di UNJ, berlatih di Rawamangun."

"Tapi saya percaya pemerintah akan melihat secara keseluruhan. Jika dibilang pakai fasilitas bekas PON, kami pun sudah menggunakannya," imbuhnya.
(mcy/raw)

Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed