DetikSport
Kamis 16 Agustus 2018, 23:29 WIB

Fasilitas Bus Asian Games 2018 di GBK Belum Efektif

Randy Prasatya - detikSport
Fasilitas Bus Asian Games 2018 di GBK Belum Efektif Shuttle bus Asian Games 2018 untuk media (Randy Prasatya/detikSport)
Jakarta - Panpel Asian Games 2018 memang menyediakan shuttle bus untuk penonton di kompleks Gelora Bung Karno. Sayang, fasilitas itu belum efektif berjalan, terutama soal durasi menunggu.

Area GBK steril dari kendaraan pribadi selama Asian Games bergulir. Kendaraan yang bisa masuk sejauh ini cuma yang memiliki stiker khusus Asian Games.

Orang-orang yang bakal masuk ke area GBK selama Asian Games, seperti penonton sampai wartawan harus berjalan kaki dari depan gerbang GBK. Akan tetapi, mereka juga bisa menggunakan fasilitas bus yang disediakan INASGOC selaku panpel.






Ada tujuh tempat pemberhentian bus di sekitaran area GBK. Sebagian besar terletak di area yang tak jauh dari venue-venue pertandingan.

"Di sini ada dua macam bus. Ada yang warna unggu royal trans dengan daerah operasionalnya di sekitaran GBK. Ada juga yang khusus atlet, tapi itu terbatas cuma dari wisma atlet," kata Nabil Fairuzzabadi selaku volunteer divisi transportasi, Kamis (16/8/2018) sore WIB.

"Bus oranye yang metro trans itu tujuannya dari GBK ke wisma atlet di Kemayoran. Ada juga yang mengelilingi area luar GBK dengan berhenti di setiap pintu," sambungnya.

detikSport mengukur rentang waktu kedatangan tiap-tiap bus. Durasinya pun beragam atau bisa disimpulkan sulit diprediksi kapan bus datang.






Dalam penghitungan waktu melalui stopwatch, sejak detikSport tiba di shuttle bus, waktu kedatangan busnya paling lama 19 menit 34 detik. Dengan waktu yang terbilang cukup lama itu, terjadi penumpukkan di shuttle bus.

"Kalau rentang waktu kedatangannya seharunya 5-10 menit. Karena saat ini armadanya belum diturunkan semua jadi untuk saat ini bisa 10 sampai 15 menit," ungkap Nabil.

Fasilitas Bus di GBK Belum Berjalan EfektifFoto: Randy Prasatya/detikSport


"Kalau untuk armada sebelum pembukaan tanggal 18 (Agustus) setau saya ada 100 bus (total semua). Ketika saat pembukaan sampai selesai itu nantinya sekitar ada 500 bus."

Kekurangan dalam penyediaan bus ini ditambah tidak adanya alat komunikasi dengan tiap-tiap shuttle bus. Hal tersebut menyulitkan volunteer untuk memberi kabar jika ada penumpukkan saat menunggu bus.

"Kami tidak ada alat komunikasi seperti handy talky. Kalau ada itu mungkin bisa jadi mudah. Komunikasinya cuma lewat chat aja atau telepon," kata seorang wanita volunteer divisi transportasi yang tak mau disebutkan namanya.






(ran/mrp)

Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed