DetikSport
Sabtu 18 Agustus 2018, 19:13 WIB

Maladi, Tokoh di Balik Siaran Televisi Asian Games 1962

Sudrajat - detikSport
Maladi, Tokoh di Balik Siaran Televisi Asian Games 1962 Foto: dok. ANRI
Jakarta - Banyak orang yang mengenal RM Maladi sebagai tokoh yang berperan aktif dalam memajukan dunia olah raga di tanah air. Tapi sejatinya kiprah lelaki Matesih, Karanganyar, 31 Agustus 1912 itu adalah juga tokoh di balik berdirinya stasiun televisi.

Selain menyiapkan berbagai infrastruktur olah raga untuk Asian Games, Maladi mengingatkan Presiden Sukarno tentang pentingnya kehadiran televisi. Dengan televisi, masyarakat di pelosok tanah air tak cuma mendengar suara tapi bisa melihat bagaimana para atlet berjuang di lapangan.

Sukarno setuju. Pun ketika Maladi mengusulkannya pertama kali pada 1952 untuk persiapan Pemilu 1955. Hanya kala itu, lawan-lawan politik Sukarno banyak yang menolaknya karena dinilai terlalu mahal. Tapi seiring adanya dana pampasan perang dari Jepang, Sukarno tak melihat lagi persoalan dana.

Pada 23 Oktober 1961, dia mengirimkan telegram dari Wina kepada Maladi. Isinya, memerintahkan kepada mantan kipper nasional yang dipercaya menjadi Menteri Penerangan untuk mendirikan stasiun televisi di Indonesia. Dalam telegramnya, Sukarno memutuskan agar proses pembangunan diserahkan kepada Nippon Electric Company (NEC).

"Supaya menghemat pengeluaran kita. NEC sudah menawarkan harga yang rendah untuk itu," tulis Sukarno seperti dikutip Isharyanto Ciptowiyono dalam artikelnya, "Maladi dan TVRI, Rintisan yang Terlupakan" yang terbit pada 9 Mei 2013.

Seiring dengan telegram tersebut, Presiden Sukarno memutuskan untuk memasukkan stasiun televisi dalam proyek pembangunan sarana ASIAN GAMES IV di bawah pimpinan Letjen TNI Dadang Suprayogi.

"Keputusan itu diwujudkan melalui Surat Keputusan Menteri Penerangan No. 20/SKM/1961 tentang pembentukan Panitia Persiapan Televisi (P2T) pada 25 Juli 1961," tulis Syaiful Halim dalam buku Dasar-dasar Jurnalistik Televisi.


Setelah stasiun dan pemancar televisi selesai dibangun pada 22 Agustus 1962, media televisi yang disebut sebagai TVRI melakukan tugasnya untuk menyiarkan Asian Games IV dari 24 Agustus 1962 sampai 4 September 1962. Pada saat itu, siaran yang dilakukan terbatas hanya untuk kota Jakarta Raya dan sekitarnya. Keppres No. 318/1962 tentang pengintegrasian TVRI ke dalam Yayasan Gelora Bung Karno menjadi langkah awal TVRI sebagai media televisi nasional.

Selain membangun stasiun televisi dan menyiapkan berbagai perangkat pendukungnya, pemerintah melalui Maladi membeli 10 ribu pesawat televisi untuk dibagikan ke seluruh pelosok tanah air. Thayeb Moh Gobel yang telah dikenal sebagai pengusaha radio lewat PT Transistor Radio Manufacturing pada 1954, dipercaya memproduksinya. Gobel menggandeng mitranya dari Jepang, Matsushita Electric Industrial Co. Ltd.

Menurut laman panasonic.com, perusahaan asal Jepang ini resmi masuk ke Indonesia pada 1960 dengan ditandatanganinya perjanjian kerja sama Technical Cooperation Agreement dengan PT Transistor Radio Manufacturing. Menjelang pembukaan Asian Games, 24 Agustus 1962, Gobel dan Matsushita memberikan televisi hitam putih produk pertama mereka kepada Ibu Negara, Fatmawati Soekarno.

Studio TVRI diresmikan pada 11 Oktober 1962 dengan Sus Salamun sebagai penyiar wanita pertama. Direktur Utama TVRI Helmy Yahya lewat akun Instagram, April lalu mengabarkan, Ibu Sus masih dalam keadaan sehat di usia 87 tahun.
(jat/din)

Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed