Itu tersebut mengemuka ketika Presiden Amerika Serikat Barack Obama memutuskan hadir di Kopenhagen, Denmark, untuk mendukung upaya Chicago menjadi tuan rumah Olimpiade 2016.
Tak cuma Obama. Presiden Brasil Inacio Lula da Silva juga hadir di sana untuk memberikan dukungan bagi Rio de Janeiro dalam acara presentasi terakhir di hadapan anggota IOC sebelum pemilihan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kekhawatiran itulah yang disuarakan oleh dua orang anggota IOC, Dick Pound dan Jim Easton. Mereka berdua mempertanyakan urgensi menghadirkan Kepala Negara demi mendukung kota di negaranya jadi tuan rumah Olimpiade.
"Saya pikir hal itu akan berhasil untuk sekian waktu," tukas Easton, wakil IOC dari AS, kepada AP. "Saya tak tahu berapa banyak (calon) kota tuan rumah yang bisa mengambil keuntungan sebelum akhirnya semuanya jadi mudah ditebak. Butuh superstar seperti Tony Blair untuk menggerakan hadirin."
Obama pada awalnya menyatakan tidak akan datang di Kopenhagen karena ia tengah sibuk menghadapi isu jaminan kesehatan di dalam negeri dan hanya akan mengirim Michelle, istrinya. Namun akhirnya sang Presiden memutuskan datang sendiri.
"Anda menghadirkan seorang pemimpin dunia yang terbang separuh putaran bumi untuk menunjukkan kepada semua orang bahwa dia mendukung negaranya," demikian ujar Pound.
Gejala memanfaatkan Kepala Negara/Kepala Pemerintahan untuk mendukung pencalonan berkembang setelah Inggris mengamankan hak tuan rumah Olimpiade 2012 lewat kehadiran (saat itu) PM Tony Blair dan Rusia merebut hak tuan rumah Olimpiade Musim Dingin 2016 untuk Sochin lewat keberadaan (saat itu) Presiden Vladimir Putin.
"Apakah kita harus melakukan hal itu, saat kita tahu betapa susahnya bagi sebagian pemimpin untuk datang. Itu harus kita pikirkan setelah tahun ini," tegas Pound yang merupakan wakil dari Kanada.
(arp/din)











































