Jika seseorang harus mengalami sebuah badai besar dalam hidupnya, boleh jadi itulah yang sedang dialami pria bernama asli Eldrick Tont Woods itu, yang dalam dirinya berkumpul darah Afro-Amerika, Thailand, China, dan Belanda. (Tiger adalah nama julukan pemberian seorang tentara Vietnam teman bapaknya, Earl).
Dari kehebatannya yang luar biasa dalam mengayuh tongkat golf, Woods merajut dongeng yangΒ semua terdengar indah: sukses, kaya raya, beristri cantik, dan terkenal di seluruh dunia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Yang membuat Woods disebut-sebut lebih hebat dari Nicklaus atau pegolf dengan rekor kemenangan terbanyak hingga kini, Sam Snead, adalah ia baru 14 tahun berkarir di dunia golf. Nicklaus mencapainya setelah berkompetisi selama 25 tahun, sedangkan Snead (1912-2002) lebih lama lagi, yakni 30 tahun.
Imbas dari kehebatan Woods bermain golf adalah kekayaannya berlimpah ruah. Selain hadiah di lapangan, ia adalah bintang iklan banyak produk besar dunia. Di akhir 2008, misalnya, pendapatan dia sudah mendekati 110 juta dolar atau Rp 1 triliun lebih. Dan itu ia dapatkan ketika usianya masih muda -- akhir tahun ini baru 34 tahun.Β
Dari sisi pribadi, Woods berhasil meminang seorang wanita cantik asal Swedia yang berprofesi sebagai foto model, Elen Nordegren. Menikah pada Oktober 2004, mereka dikaruniai dua orang anak.
Sampai di situ, semua seperti begitu ideal sebelum tersiar sebuah berita pada 25 November 2009, ketika tabloid supermarket The National Enquirer menceritakan adanya kisah affair dia dengan seorang manajer klub malam bernama Rachel Uchitel. Lalu cerita membesar setelah Woods mengalami kecelakaan mobil sehari kemudian.
Seketika terbeberkan banyak versi tentang skandal seks Woods, yang ternyata melibatkan cukup banyak wanita. Puncaknya adalah ketika si "aktor utama" memutuskan vakum dari golf sampai waktu yang tak bisa ditentukan.
"Ini jualan majalah, meningkatkan trafik website. Media selebritas adalah sebuah bisnis, dan selama masalah Tiger bergulir, media melakukan pekerjaannya dengan cantik," demikian ulasan public relation Hollywood veteran bernama Howard Bragman, seperti dikutip Reuters.
Bragman menggambarkan Woods, yang terus "ngumpet" sejak skandalnya terbongkar, sebagai seseorang yang "diburu". Sebuah foto Woods, dengan kemungkinan luka di wajahnya dari kecelakaan mobil tersebut, konon berharga sampai satu juta dolar.
Jim Brates, seorang konsultas manajemen krisis dari perusahaan yang bermarkas di Los Angeles, mengatakan bahwa tidaklah realistis bagi Woods untuk berharap keluar dari kegilaan ekspos media di era saat ini, di mana siapapun bisa mengambil foto dari handphone dan menaruhnya di internet beberapa menit kemudian.
"Media selebritas begitu menjalar. Ia sangat kompetitif dan agresif, sudah lebih dari 20 tahun. Dan mainstream media adalah semakin jauh melibatkan berita-berita selebritas," papar Bates, yang perusahaannya memiliki banyak klien termasuk Michael Jackson.
Yang gilanya, acara talkshow yang terkenal satir dengan host Jay Leno, sudah menyuguhkan program "Tiger Tote Board", yang menampilkan pengakuan sejumlah wanita (13 per hari Jumat), bahwa mereka pernah berhubungan seks dengan Woods.
Sebuah situs, dailycomedy,com, telah mengumpulkan sekitar 543 lelucon tentang Tiger Woods di hari Sabtu. Sebuah game animasi berjudul "Tiger Hunting", yang intinya adalah mengolok-olok si pegolf, sudah dimainkan 1,7 juta kali sejak 1 Desember di situs break.com.
Sikap Woods yang memilih bungkam dan tidak memberi keterangan apa-apa kecuali "ingin menjadi ayah dan suami yang lebih baik, dan menata lagi rumah tangganya", dinilai telah melahirkan spekulasi banyak orang termasuk media, dan mungkin saja membuat kecewa sebagian fansnya.
Woods dianggap kurang antisipatif pada potensi media menjadikan sesosok tokoh sebagai selebritas, dan tidak sebatas profesi utamanya (sebagai atlet sukses). Salah satu cara yang mungkin bisa sedikit membantu Woods akan melakukan wawancara eksklusif dengan media-media terpercaya, semisal Oprah Winfrey dan Diane Sawyer.
"Tiger Woods selalu bisa menggunakan media selama bertahun-tahun untuk membangun persona-nya. Sekarang dia sedang belajar bahwa media bisa bermain di dua jalan, dan itu bisa kasar," demikian komentar Steve Helling, yang tujuh tahun meliput Tiger Woods untuk majalah People.
(a2s/key)











































