'Kapan Lagi Bela Merah Putih?'

World Golfers Championship

'Kapan Lagi Bela Merah Putih?'

- Sport
Kamis, 07 Okt 2010 08:17 WIB
Kapan Lagi Bela Merah Putih?
Jakarta - Untuk beberapa kalangan, golf masih dianggap sebagai olahraga orang yang sudah berumur. Tapi buat mereka yang menggelutinya, golf justru bisa menjadi sebuah kesempatan berharga membawa nama negara.

Turnamen World Golfers Championship yang sedang digelar di empat court di Sentul, Cibubur, dan Serpong adalah sebuah event tahunan yang bertujuan mencari pegolf-pegolf amatir yang akan dibawa ke ajang WGC Internasional di Thailand akhir bulan ini.

Lima juara dari setiap divisi (berdasarkan handicap) akan berkompetisi dengan puluhan peserta dari negara lain untuk memperebutkan gelar juara. Indonesia sudah mengikutinya sejak 2006 dan menjadi juara dunia dua kali di tahun 2007 dan 2009.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Salah satu pegolf yang sudah lolos ke Final Indonesia, David V. Sumendap, mengatakan, motivasinya mengikuti WGC Indonesia semata-mata ingin meningkatkan prestasi dari kemampuannya mengayun stik golf, sebuah permainan yang sudah digelutinya selama sekitar 20 tahun. Jika bisa menang -- di Divisi B (handicap 6-10) -- ia punya kesempatan tampil di level internasional.

"Buat orang seusia kita, kapan lagi bisa membawa nama negara. Saya pastikan, jika itu terjadi, ini merupakan sebuah kesempatan yang sangat berharga sekaligus membanggakan. Mungkin ini kesempatan sekali seumur hidup, yang entah kapan bisa didapat lagi," ujar David dalam obrolannya dengan detiksport di Riverside & Country Golf, Cimanggis, Selasa (5/10/2010).

"Bagi saya, Indonesia adalah nomor satu. Biar bagaimanapun keadaannya, saya paling tidak senang kalau ada orang yang menjelek-jelekkan bangsanya sendiri," sambung pengusaha 46 tahun yang bergerak di bidang jasa alat-alat berat itu.

David kemudian menceritakan sebuah pengalaman tidak mengenakkan yang ia alami baru-baru ini. Di bulan Juli lalu ia memenangi sebuah turnamen yang disponsori perusahaan mobil terkemuka, tapi kemudian dianulir karena panitia menyatakan salah menghitung skor.

Ia merasa sangat kecewa terutama karena pembatalan itu baru dibuat penyelenggara satu bulan kemudian, juga cuma melalui verbal, tanpa permintaan maaf secara resmi. Yang juga membuatnya terpukul adalah, kesempatan tampil di luar negeri (Italia) untuk mewakili Indonesia pun sirna. Padahal ia sudah sangat menanti-nantikan kesempatan itu datang.

"Ketika kita tahu bahwa kita akan membela negara di kejuaraan internasional, perasaannya sungguh berbeda. Ada kebanggaan tersendiri. Sekali lagi saya katakan, untuk kami-kami, kapan lagi bisa membawa nama negara. Makanya saya sudah mempersiapkan hal itu dengan sungguh-sungguh. Saya sudah menyiapkan baju merah-putih untuk bertanding nanti," tuturnya.

Sayang, mimpi "tugas bela negara" itu batal terwujud hanya karena sikap tidak profesional dari penyelenggara turnamen tersebut.

Tak patah arang, David kembali mengais kesempatan itu melalui turnamen WGC, yang ini adalah kali kedua ia mengikutinya setelah tahun lalu. Bapak dua anak yang juga pernah menjadi atlet softball dan memperkuat Kalimantan Timur di PON 1987 itu pun siap bertarung di Final Indonesia.

"Semua pemain saya kira punya kans yang berimbang. Tapi saya cukup yakin bisa tampil sebaik mungkin untuk bersaing dengan mereka," tukas David, yang juga penggila olahraga renang itu.


(a2s/krs)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads