Proliga 2004
Yogya Gunadarma Protes Wasit
Minggu, 23 Mei 2004 00:20 WIB
Semarang - Kekalahan diderita tim voli putra Yogya Yuso Gunardama tiga set langsung 20-25, 21-25 dan 20 -25 dari Surabaya Flame di GOR Jatidiri, Sabtu (22/5/2004). Protes keras pada wasit pun dilontarkan oleh pelatih Yogya, Putut Marhaento.Surabaya Flame yang diperkuat pemain Cina Then Mao Ming, lebih dahulu memimpin di set pertama. Dua pemain asing Yogya Gunardama Kenton Lapp dan Guus Heren Chott belum bisa memperlihatkan permainannya yang prima. 1-0 untuk Flame. Insiden yang membuat Putut melakukan protes keras terjadi di set kedua. Saat itu, Yogya unggul 8-3 protes keras dari salah satu pemain Flame dinyatakan bola masuk oleh wasit. Namun pihak Yogya meyakini Heren Chott telah menahan smash tersebut. Setelah diperiksa ulang wasit I menyatakan kalau bola smash tersebut masuk. Sedangkan wasit II menyatakan Heren Chott berhasil menahan smash sehingga sempat terjadi adu mulut karena keputusan kontroversial ini. Akhirnya service kembali diulang. Namun, akibat protes ini membuat konsentrasi pemain Yogya terganggu yang tadi sempat unggul, akhirnya kemenangan diraih oleh Flame. Yogya akhirnya bermain kurang solid di set selanjutnya karena belum lepas atas kejadian sebelumnya. Yogya akhirnya kalah.Ditemui setelah usai pertandingan, Putut mengungkapkan kekecewaannya tentang wasit. "Keputusan wasit merugikan kami sehingga permainan anak anak menjadi terpengaruh yang tadinya unggul jadi lepas," kata Putut kepada wartawan."Seharusnya event besar seperti Proliga ini dipimpin oleh wasit yang pernah menangani Proliga juga. Nah, ini wasit yang belum pernah memimpin di Proliga kok malah dipakai," tandasnya. Sementara itu, Surabaya Flame memastikan tempat di semifinal. "Kami sudah aman, masih ada sisa dua pertandingan lagi tapi kami akan coba untuk terus menang," ujar pelatih Falme asal Cina, Ho Xin Yu kepada detikcom.Sedangkan Ketua Panitia Proliga Seri II Semarang sekaligus manajer Semarang Berlian, Umbu Puda juga menyayangkan mengenai kepemimpinan wasit. "Saya menyesalkan adanya protes itu, tapi mungkin sebaiknya wasit yang memimpin di saat-saat krusial ini (perebutan empat besar) harus wasit berkualitas," ujarnya. (erk/)











































