Sesuai standar internasional, pelari profesional amatir dibuatkan batasan saat berlomba. Mereka biasanya tidak ditempatkan dalam barisan, antara lain karena masing-masing punya sistem dan kebiasaan berlari yang tidak sama.
Pelari jarak jauh profesional pada umumnya tidak memulai lomba dengan cepat-cepat, tetapi dengan penuh perhitungan. Sebaliknya, pelari amatir biasanya ingin langsung "tancap gas", bahkan tidak jarang yang terkesan ingin buru-buru.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
JI10K, yang diadakan oleh Dinas Pemuda dan Olahraga (Disorda) DKI Jakarta dan PB PASI, dan disponsori oleh Milo, menyiapkan sekitar 300 pelari buffer, yang terdiri dari mahasiswa Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Pada hari H nanti mereka akan mengenakan pakaian khusus berwarna abu-abu.
"Mereka akan menjaga, memisahkan pelari profesional dengan umum, karena kalau sampai ditabrak-tabrak itu bisa berbahaya juga," ujar Vincentius Dardityo Santoso dari pihak penyelenggara kepada detiksport.
"Mereka juga akan mengamankan jalur finish, sehingga penonton tetap terkendali manakala ada pelari yang akan finish, juga memberi ruang buat wartawan dan fotografer untuk mengabadikan momen finish," tambahnya.
Pelari buffer juga bertugas "menangkap" pelari dari kelompok umum/pelajar yang finish, dengan langsung memberi kalung penanda dan membawanya ke ruang karantina untuk diverifikasi hasilnya.
Tugas lain dari buffer adalah mengawasi pelari yang mengalami masalah atau insiden saat berlomba, untuk diberikan bantuan atau membawanya ke pos kesehatan.
Buffer akan melakukan gladi resik pada hari Sabtu (4/6) pagi, dan sudah akan berada di lokasi lomba pada pukul 4 pagi di hari Minggu. Mereka juga bisa berperan sebagai pemberi semangat dengan menyanyikan lagu-lagu tertentu.
(Info lain lihat di sini)
(a2s/krs)











































