Juara pertama diraih oleh I Wayan Betet Merta Kuta, dari yang berhasil mengalahkan lawan-lawannya dan memukau dewan juri. Mengikuti Betet, rekan seprofesi lainnya, Made Garut bertengger di urutan kedua, sedangkan posisi akhir diduduki oleh peselancar Australia, Beau Walker.
Kompetisi Surfing Tow At digelar di Pantai Kuta, Rabu malam (29/6/2011). Atraksi Surfing Tow At malam hari, Red Bull Night Riders, yang dipadati sekitar seribu pengunjung pantai Kuta ini memang menjadi agenda kompetisi Surfing yang terbilang unik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Betet, sang juara Red Bull Night Riders merasa bangga dapat menjadi pemenang kompetisi Surfing Tow At pertama di Asia ini. Secara antusias pria Kuta usia 30 tahun ini menjelaskan kesulitan menguasai keadaan di malam hari.
"Sulit memang bermain Surfing Tow At di malam hari yang hanya disinari lampu sorot saja. Harus pintar memprediksikan arah ombak agar mampu melakukan atraksi di udara dan pendaratan yang sempurna," katanya.
"Selain kemampuan menguasai papan selancar, faktor luck saya rasakan karena pengemudi jet ski mampu membaca ombak-ombak seperti yang saya inginkan dan tentunya perfect time. Yang paling membanggakan adalah dapat mengalahkan surfer mancanegara", tutu pria yang kerap mengikuti kompetisi Surfing di berbagai negara seperti Australia, California, Hawaii dan Jepang itu.
Field Marketing Manager, Red Bull Indonesia, Irina Kosobukina kagum dengan perwakilan Red Bull Indonesia. "Kami kagum dengan prestasi yang diraih peselancar Indonesia di ajang kompetisi Surfing Tow At pertama di Asia ini. Terbukti bahwa peselancar lokal mampu bertanding secara professional dengan peselancar mancanegara," katanya.
(a2s/din)











































