"Kami menduga ini human eror, karena korban kurang tidur atau kelelahan," terang Rudhanton, pelatih tim XTR, yang merupakan tim almarhum di event ini.
Rudhanton saat dihubungi detiksurabaya.com mengaku, sejak malam hingga subuh tadi korban diketahui begadang, sehingga diduga kuat kekurangan waktu untuk istirahat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, trek yang digunakan dalam kejurnas tersebut telah berulangkali dilalui korban. Nyaris setiap hari timnya menggelar latihan di tempat itu.
"Korban sudah hafal betul treknya, karena sering latihan di situ," aku dia. "Harusnya korban tahu harus bagaimana, tapi musibah sudah ditakdirkan," sambung Rudhanton.
Dalam event ini timnya menurunkan sebanyak 10 atlet termasuk korban yang ikut pada kelas master. Kelas ini diikuti oleh masyarakat umum yang hobi balap sepeda, alias bukan murni atlet. "Bagi korban ini hobi saja," ungkapnya.
Ia menambahkan, pada event sebelum yang digelar di Taman Dayu Pasuruan, korban juga turun di kelas yang sama. Meskipun pada kejurnas seri IV itu korban tak menyabet gelar juara. "Di taman dayu juga turun," imbuhnya.
Panitia sendiri berdalih tingkat risiko trek telah dihitung, semua atlet dipastikan mampu menaklukkan jalur menurun sepanjang 1,3 kilometer itu.
"Semua sudah diperkirakan, di tempat kejadian speed harus lambat memang," ujar Ketua Panitia Pranama Nugroho di lokasi.
(fat/a2s)










































