Empat tahun lalu Bolt meraih tiga medali emas dari nomor 100 meter, 200 meter, dan 4 X 100 meter bersama tim Jamaika. Semua kemenangannya itu ditandainya pula dengan rekor baru.
Dalam sejarah Olimpiade, belum pernah ada pelari yang bisa mempertahankan medali emasnya di nomor 100 dan 200 meter. Bolt mengincar pencapaian itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tentang persiapannya, pelari yang mengidolakan klub sepakbola Manchester United itu menyatakan dirinya sangat termotivasi. Ia berharap puncak kebugarannya justru muncul di London.
"Dengan setiap sesi latihan, aku semakin baik dan semakin baik. Aku tak punya kegiatan apa-apa sekarang, jangan khawatir. Semuanya latihan, makan, dan tidur," tambah dia.
"Aku punya lebih banyak waktu dan bisa lebih berusaha dalam latihan. Setiap hari aku merasa lebih baik. Aku sama sekali tidak punya keraguan bahwa aku bisa menang di Olimpiade ini."
Meski lama menyandang predikat sebagai manusia tercepat di planet bumi, tapi Bolt menemui kegagalan di Kejuaraan Dunia di Daegu, Korea Selatan, tahun lalu. Ia didiskualifikasi di final 100 meter karena kesalahan start. Rekan senegaranya, Yohan Blake, menjadi bintang dengan memenangi nomor itu dan juga 200 meter.
Meski begitu Bolt cenderung kurang memperhitungkan Blake, yang baru berusia 22 tahun. Ia lebih mewaspadai persaingan dari kompatriotnya yang lain, Asafa Powell, dan beberapa sprinter top lain dari Amerika Serikat.
"Ini bukan cuma Blake. Ini akan jadi pertarungan di antara aku, Asafa Powell, Tyson Gay, Justin Gatlin, dan orang-orang ini," sahutnya.
"Ini sebuah lomba dengan atlet-atlet top. Ini akan jadi kompetisi yang levelnya berbeda buat Yohan. Perlu banyak fokus, dan oleh karena itu menimbulkan banyak tekanan. Ini akan jadi tes sesungguhnya buat dia sebagai seorang atlet β dan juga sebagai seseorang. Kita akan lihat sebagus apa dia."
(a2s/roz)











































