'Yang Penting Dapat Emas'

PON XVI

'Yang Penting Dapat Emas'

- Sport
Selasa, 07 Sep 2004 15:35 WIB
Palembang - Puas diri kerap menjadi sifat buruk yang dialami banyak manusia. Tampaknya penyakit ini tengah menghinggapi atlet-atlet kita di PON XVI. Bagaimana bisa maju? Kemarin, (6/9), Ni Putu Desi Margawaty berhasil mempersembahkan emas untuk Sumatera Selatan di cabang andalannya lompat galah. Desi mencatat hasil lompatan 3,50 meter.Meski hasil ini sudah cukup untuk membawanya ke podium tertinggi (juara) namun itu sesungguhnya bukan lompatan terbaiknya. Di PON XV lalu, Desi pernah melompat setinggi 3,65 meter. Hasil ini mencatatkan namanya dalam rekor PON. Lebih jauh, ia bahkan menjadi pemegang rekornas berkat lompatan setinggi 4,10 meter yang ditorehkannya di Srilangka dua tahun lalu.Mengingat hasilnya kali ini lebih buruk dari empat tahun lalu, puaskah Desi? β€œYang penting β€˜kan juara (pertama), target saya memang dapat emas,” jawab atlet berambut cepak ini.Atlet lompat jangkit Mohamad Junaidi juga berhasil mempersembahkan emas buat DKI Jakarta. Ia mencatat hasil lompatan 15,69 meter.Jika dibandingkan dengan rekor PON yang tercatat atas nama Sugeng Jatmiko, 15,91 meter, hasil yang diraih Junaidi jauh lebih buruk. Apalagi jika dibandingkan dengan rekornas yang ditorehkan Sugeng, yaitu 15,97 meter.Ketika ditanya apakah sudah puas dengan hasil ini, senada dengan Desi, Junaidi pun menjawab: β€œHasil yang saya peroleh sudah baik. Di sini (PON) sasaran saya memang menjadi juara (pertama),” ujar Junaidi.Ya, sekadar medali emas lagi-lagi menjadi target yang ingin diraih atlet di PON.Kenyataan kalau atlet kita lebih mementingkan medali emas dibanding perbaikan prestasi memang sungguh ironis. Padahal beberapa waktu lalu KONI Pusat telah menganjurkan para atlet untuk menorehkan rekor atau rekornas sebanyak-banyaknya. Gunanya apalagi selain agar prestasi mereka tidak terlalu njomplang jika harus bersaing di forum internasional.Jika membandingkan mental bertanding atlet kita dengan atlet-atlet dari luar negeri, kita jelas ketinggalan. Pembalap juara dunia tujuh kali Michael Schumacher, misalnya.Pembalap asal Jerman ini dikenal dengan predikatnya sebagai β€œmanusia rekor”. Juara dunia tujuh kali, juara seri terbanyak dalam satu musim kompetisi, dan podium terbanyak sepanjang masa adalah sebagian rekor yang ditorehkan Schumi.Jika sekarang Schumi memutuskan pensiun, kita pun akan maklum, β€œya dia’ kan sudah dapet semuanya,”. Namun, apa pernah Schumi berpuas diri? Nyatanya tidak. Setiap menghadapi seri balapan, ia cuma punya satu prinsip: jadi juara alias menang dan menang lagi. Artinya, Schumi tak pernah puas memperbaiki catatan prestasinya.Meski menang adalah hal yang menyenangkan, namun menang sekaligus memperbaiki catatan prestasi pastinya jauh lebih menyenangkan dan tentunya lebih membanggakan. Bagaimana atlet Indonesia? (mel/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads