Suvenir Mahal tapi Tetap Diburu

PON XVI

Suvenir Mahal tapi Tetap Diburu

- Sport
Kamis, 09 Sep 2004 16:11 WIB
Palembang - Selain untuk menyaksikan pertandingan, para penonton dan hadirin yang datang ke venue PON XVI kerap memburu suvenir asli PON XVI. Meski sedikit mahal namun banyak orang yang tertarik membeli.Menurut koordinator lapangan untuk penjualan suvenir PON XVI, Tumpal Hutaean, kepada Detikcom, Kamis (9/9/2004), suvenir PON XVI dikonsep dengan serius sejak beberapa bulan lalu."Pertama, bentuk desain harus memiliki nuansa sosialisasi. Kedua, harus memiliki daya tarik buat remaja. Ketiga, harus mampu menarik orang kantoran. Yang terakhir, harus mampu menarik hati penonton pertandingan," ujar Tumpal.Bentuk keseriusan pihaknya menurut Tumpal, selain desain juga memastikan bahan baku memiliki kualitas terbaik. "Bahan baku untuk membuat suvenir PON XVI berbeda-beda. Kaos, misalnya, kami pesan dari Jakarta dan Bandung. Sementara boneka Rimau (maskot PON XVIβ€”Red) kami pesan dari Beijing Cina. Pokoknya kami memilih pemasok yang menghasilkan barang berkualitas bagus," ucapnya."Pernah, kami memesan boneka dari Jakarta, namun kualitas barangnya jelek. Karena itu kami memilih untuk memesan barang dari Cina, yang kualitasnya memuaskan. Lagipula tak ada produsen di dalam negeri yang mampu memenuhi pesanan kami," tuturnya lagi.Karena berkualitas bagus, beberapa suvenir PON XVI dijual dengan harga agak mahal. Sebuah boneka Rimau besar, misalnya, dibandrol Rp 80.000. Boneka Rimau kecil dijual Rp 20.000-25.000 per buah. Sementara suvenir-suvenir kecil dijual dengan harga bervariasi mulai dari Rp 2.000-10.000 per buah.Menurut seorang penjaga stand suvenir yang ditemui di depan Hall Unsri Palembang, barang paling laku yang dijual standnya adalah boneka Rimau dan gantungan kunci."Sepertinya orang-orang sudah beli di tempat lain. Jadi suvenir di tempat kami biasanya hanya dilihat atau mereka beli yang kecil-kecil saja," tutur Sopar kepada Detikcom.Para penjual seperti Sopar mengaku mudah mendapatkan suvenir asli PON XVI. "Kami mengajukan diri sebagai sales kepada Mandat Kebudayaan (suatu seksi di PB PON XVI-Red) sambil melampirkan identitas diri dan mengisi formulir. Dua hari kemudian kami mendapatkan ID Card," tutur Sopar. "Barang kami dapatkan dari Koperasi Menara milik pemerintah kota Palembang," lanjutnya.Meski laku dijual, Sopar mengatakan pihaknya tak mendapatkan omset yang terlalu besar per harinya. "Setiap hari omsetnya tak tetap. Pernah, kami menghasilkan omset hingga 3 juta rupiah, namun pernah juga kami mendapat omset 300.000 rupiah. Yang jual suvenir seperti ini banyak bangetsih," lanjutnya.Meski demikian, ketika Detikcom berbelanja di tempat ini, boneka Rimau ternyata telah terjual habis. Jika kebetulan mengunjungi Palembang, jangan lupa berburu suvenir asli PON XVI. (mel/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads