Dengan kursi roda, Widiarsih merupakan salah satu atlet atlet angkat berat di kelas 44 kg saat berpartisipasi pada Paralympic Games di London bulan lalu. Pada event tersebut, gadis yang masih duduk di bangkus SMA Dwi Jendra kelas III di Nusa Dua Bali itu berhasil masuk posisi lima besar.
Sukses di Paralympic Games dipertahankan Widiarsih saat dia berlaga di Peparnas XIV, yang tengah berlangsung di Riau. Perempuan berusia 20 tahun itu bukan saja meraih medali emas, dia juga berhasil memecahkan rekor Asia Tenggara.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Prestasinya yang gemilang di bidang olahraga angkat berat, selain untuk membawa nama baik Indonesia di mata internasional, tentunya juga membawa harum nama daerahnya. Terlebih lagi, semua prestasi ini dia persembahkan untuk kedua orangtunya dan keluarganya.
"Kalaupun ada bonus dari meraih emas di Peparnas di Riau atau di Asean Paralimpik Games, semata-mata untuk membantu orangtua," kata Widiarsih.
Ketertarikan Widiarsih terhadap angkat berat bermula dari kakaknya yang hobi olahraga. Kerap mengikuti sang kakak fitness, perempuan yang bercita-cita menjadi sarjana psikologi itu akhirnya mulai tertarik untuk mencoba angkat berat.
"Awalnya saya cuma pegang stik saja, terus mencoba mengangkatnya. Lama-lama saya mencoba untuk menekuni bidang olahraga itu. Dan akhirnya saya bisa menunjukan kepada masyarakat, walau saya memiliki kekurangan, tetap bisa berprestasi," lanjutnya berkisah.
Terkait persoalan diskriminasi hadiah yang diberikan pemerintah terhadap atlet dengan keterbatasan fisik, Widiarsih memilih bersyukur mengiklaskan apa yang berhasil dia dapat.
"Kalau ditanya ada dikriminasi apa tidak, ya silahkan terjemahkan sendiri saja. Tapi saya tetap iklas dan menerima apa adanya. Mungkin memang begitulah yang harus kami terima. Yang penting kita bisa bepretasi."
"Bonus yang saya dapatkan mungkin sudah lebih dari cukup. Mungkin memang pemerintah saat ini membuat aturannya seperti itu. Jadi ya kita terima saja, walau itu juga bentuk diskriminasi,β tuturnya pelan.
Sebagai catatan, pemerintah memberi hadiah uang sejumlah Rp 200 juta untuk atlet yang meraih emas di SEA Games lalu. Sementara atlet yang juga mengusung bendera Merah Putih di Asean Paralimpik Games hanya dapat Rp 50 juta untuk setiap emas yang diraih.
(cha/din)











































