Tuwariyyah adalah salah satu atlet yang mewakili Daerah Istimewa Yogyakarta dalam ajang Pekan Paralimpik Nasional (Peparnas) XIV, yang kini masih berlangsung di Riau. Turun di cabang panahan, perempuan 33 tahun itu sejauh ini sudah meraih tiga medali emas.
Dengan tiga emas yang sudah diraihnya itu, Tuwariyyah jelas bukan atlet biasa. Tapi yang membuatnya lebih istimewa lagi adalah fakta kalau dia terbilang serba bisa. Tahun 2011 lalu dalam ajang Asean Para Games di Solo, ibu dua anak kelahiran Temanggung ini adalah atlet voli. Dia malah membantu kontingen Indonesia merebut medali emas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Waktu enam bulan sejatinya tidaklah cukup bagi seorang atlet untuk pindah cabang olahraga. Namun karena ketekunannya, Tuwariyyah mampu menunjukan kebolehannya dalam menancapkan busur kesasaran yang tepat. Tak main-main, tiga medali emas berhasil dia rebut dan persembahkan buat provinsinya.
βSelama enam bulan menjelang ke Riau saya saban hari latihan, libur hanya sekali saja. Alhamdulillah, saya bisa (dapat) tiga emas,β kata Tuwariyyah.
Dengan menoreh prestasi yang gemilang ini, Tuwariyyah pun berkeinginan tetap berada di cabang panahan pada Asean Para Games di Myanmar tahun depan. Targetnya mempersembahkan emas buat Merah Putih.
βMohon doanya, nanti di Asean Para Games tahun depan, kita bisa rebut emas,β katanya.
Pun begitu, Tuwariyyah bersama paralimpian lainnya tetap berharap adanya niat pemerintah untuk memberikan prosi yang sama soal bonus dan perhatiannya. Mereka tetap ingin tidak adanya diskriminasi antara atlet normal dengan yang cacat. "Kiranya kedapan jangan ada lagi perbedaan sesame atlet," harapnya.
Seusai tampil hebat di Bumi Lancang Kuning, Tuwariyyah bakal kembali ke Yogyakarta untuk menekuni statusnya sebagai ibu rumah tangga dan membantu sang suami mencari nafkah dengan menjadi penjahit. Sang suami juga adalah atlet panah dalam ajang Pekan Paralimpik Nasional ini, namun berbeda dengan istrinya, dia gagal mempersembahkan medali.
(cha/din)











































