Laboratorium tersebut dibangun dengan sumber dana Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) di Kemenpora, yang besarnya sekitar Rp 19 miliar di tahun anggaran 2011.
Menurut Roy, selama ini Indonesia selalu mengirim uji sampel atlet ke luar negeri, yakni ke Malaysia dan Thailand. Dengan dibangunnya gedung ini diharapkan Indonesia bisa menguji sampel doping sendiri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Roy, dipilihnya kampus sebagai tempat didirikan lab pengujian doping dinilai efisien dan pilihan tepat.
"Pengucuran anggaran kementerian yang ditempel di kampus akan lebih hidup. Salah satu pola semua sarana olahraga akan kita dekatkan dengan kampus-kampus, sehingga kehidupan kampus jalan, olahraga juga hidup," terangnya.
Laboratorium tersebut berada di dalam gedung seluas 3,876 meter persegi, yang terdiri dari 4 lantai. Areal parkir di bagian basement bisa menampung 20 kendaraan, ground floor 36 kendaraan. Lantai 3 untuk laboratorium uji, dan satu lantai lain untuk seminar atau pelatihan.
Peresmian gedung ini dilakukan bersama dengan Rektor ITB Akhmaloka dan Wali Kota Bandung Dada Rosada.
(avi/a2s)











































