Besarnya minat pada masyarakat itu ditunjukkan dengan semakin banyaknya gelaran lomba lari (jarak jauh), seperti 5 kilometer, 10 km, bahkan maraton.
Di Jakarta, pada 19 Mei lalu berlangsung lomba lari 6 km yang digagas oleh Perusahaan Gas Negara. Sementara, salah satu bank swasta juga menggelar lomba serupa akhir pekan ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Beberapa penghobi olahraga lari dari Indonesia pun pernah menyempatkan diri untuk mengambil bagian lomba lari di luar negeri itu. Salah satunya adalah co-founder komunitas lari Indo Runners, Yomi Wardhana.
"Kalau yang lain pergi untuk berbelanja, saya datang ke sana untuk mengikuti lomba lari," kata Yomi Wardhana yang pernah ikut lomba marathon di Singapura, Kuala Lumpur, dan Hong Kong.
Mengakomodasi minat masyarakat yang besar itu, dalam rangkaian peringatan HUT DKI Jakarta yang ke-486 juga digelar satu lomba lari pada 23 Juni mendatang. Menggandeng Milo sebagai sponsor, lomba lari itu bertajuk Jakarta Internasional 10K.
Pada gelaran yang ke-10 ini, Jakarta 10K akan diikuti ditargetkan bakal diikuti oleh 35 ribu peserta. Tahun lalu, event yang mengambil rute dari Silang Monas Barat Daya menuju Jln. MH Thamrin, Bunderan HI, Jln. Jenderal Sudirman, memutar di depan bekas stasiun pompa bensin Semanggi, dan kembali ke Jln. Jenderal Sudirman, Bunderan HI, Jln. MH Thamrin dan finis di Silang Monas Barat Daya itu diikuti oleh 32 ribu peserta.
Semakin besarnya minat pada olahraga lari ini memang didukung oleh beberapa hal. Keberadaan media sosial dan gadget yang mendukung olahraga ini adalah contohnya.
"Sekarang ini orang narsis kalau lari. Dengan aplikasi yang di gadget mereka bisa mengunggah di media sosial (jarak yang ditempuh saat melakukan aktivitas olahraga)," jelas Yomi saat dihubungi detikSport, Jumat (24/5/2013).
"Keberadaan media sosial juga memudahkan untuk menularkan virus lari. Ditambah dengan adanya sosok idola, olahraga lari akan semakin menjadi tren," ungkapnya.
(cas/a2s)











































