Memakai baret warna gelap, yang menutupi sebagian rambut ikalnya, Kurniawan ada di antara puluhan ribu orang yang mengikuti event tersebut tadi pagi. Mungkin karena faktor usia, beberapa peserta yang lebih muda menyalami dan mengacungkan kedua jempolnya.
Ditemui detiksport, Kurniawan mengatakan bahwa usianya sudah 55 tahun. Pria berkulit gelap tapi terlihat masih bugar itu mengaku tidak pernah melewatkan Jakarta 10K, yang tahun ini merupakan edisi ke-10.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ditanya soal kiat-kiatnya menjaga kebugaran dan stamina, ia mengatakan bahwa dirinya tetap rajin berolahraga lari. "Yang tak kalah penting, jaga pikiran, jangan gampang stress."
Belum lama ini Kurniawan juga pernah mencuri perhatian ketika timnas Indonesia bertanding melawan timnas Belanda di Stadion Gelora Bung Karno. Kala itu ia berlari dari Cempaka Putih menuju Senayan, dengan penampilan nyentrik: hanya bercelana pendek, mencat tubuh dan wajahnya dengan merah-putih.
Sebagai mantan atlet lari, Kurniawan mengaku senang dengan maraknya event lari akhir-akhir ini. Selain supaya masyarakat memiliki lebih banyak kesempatan untuk berolahraga, ia juga berharap Indonesia kelak lebih dipandang dunia internasional dengan event-event seperti ini.
Cerita lain yang dituturkan Kurniawan, ia terkesan begitu 'niat' untuk mengikuti Jakarta 10K kali ini. Ia mengaku datang sendiri dari rumahnya di Pasar Cikereteg Desa Ciherang Gede, Bogor.
"Saya asli Jakarta, tapi tinggal di Bogor. Saya sudah di sini (Monas) dari kemarin sore. Tidur ya di sini, setelah acara pesta tadi malam selesai jam 1-an. Ya tidur-tidur ayam gitu lah," ucapnya.
Ditanya berapa waktu yang ia buat untuk menyelesaikan lari 10 km, ia menyebut "40 menit sekian". Ia juga mengatakan, waktu terbaiknya sewaktu masih jadi atlet maraton adalah dua jam 40 menit.
(a2s/cas)











































