Reza Puspo, Pendiri Indo Runners yang Mulai Ketagihan Triatlon

Reza Puspo, Pendiri Indo Runners yang Mulai Ketagihan Triatlon

Mercy Raya - Sport
Senin, 05 Agu 2013 14:48 WIB
Reza Puspo, Pendiri Indo Runners yang Mulai Ketagihan Triatlon
detiksport/Rengga Sancaya
Jakarta -

Sulit untuk tidak menyebut Indo Runners sebagai komunitas lari yang paling populer di Indonesia saat ini. Dari "sekadar" berlari, salah satu penggagasnya, Reza Puspo, kini mulai ketagihan triatlon.

Ditemui detiksport di Sultan Residence, Senayan, Jakarta, beberapa waktu lalu, pria 42 tahun itu sedang mempersiapkan diri menghadapi ajang triatlon MetaMan Bintang 2013 yang akan berlangsung pada 31 Agustus mendatang.

Triatlon ultrajauh atau iron distance triathlon ini terdiri dari dua kategori. Kategori "MetaMan Full" adalah gabungan dari olahraga renang sejauh 3,8 km, bersepeda 180 km, dan lari 42,2 km. Kategori "Halfman MetaMan" adalah gabungan tiga olahraga tersebut, tapi jaraknya hanya separuh dari yang pertama.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Setelah ikut mendirikan Indo Runners di tahun 2009, walaupun tak punya background atlet profesional, Reza kini telah dikenal sebagai penggila olahraga terutama lari. Belakangan ia juga tertarik untuk mulai menggeluti triatlon, yang secara fisik tentu saja memerlukan daya tahan dan stamina yang luar biasa.

"Yang pertama kali meracuni saya itu Richard (Sam Bera --eks atlet renang nasional). Dia yang ajak saya untuk mencoba triatlon ini. Saya pikir, boleh juga nih," tutur Reza.

Meski demikian Reza tak langsung mengiayakan ajakan temannya itu. Ia butuh waktu untuk mempertimbangkannya, terutama perihal harus berenang di laut dengan jarak yang tidak pendek.

"Saya sudah dengar soal triatlon dari teman-teman. Awalnya itu takut, segan, mikir juga laut itu kayak apa ya," ujarnya.

"Karena untuk orang yang tinggal di Jakarta, laut itu bukan sesuatu yang rutin kita lihat, tidak seperti anak-anak di Bali, misalnya, yang bisa dibilang melaut setiap hari. Makanya ketika tahu ada sesi berenang di laut, yang ada dibenak saya itu ikan hiu, ubur-ubur," sambungnya sambil tertawa.

Setelah merasanya mentalnya siap, kenang Reza, akhirnya pun ia mengikuti sebuah ajang triatlon di tahun 2010, tapi tidak langsung full, melainkan untuk kategori pemula. "Waktu itu saya hanya ikut bagian sepedanya saja. Pas di lautnya saya cuma lihat-lihat saja, hehehe..."

Sejak itu Reza mulai lebih "berani" untuk terjun di triatlon dan kemudian makin terbiasa untuk mengikuti kompetisi tiga cabang olahraga sekaligus itu. Terakhir ia berpartisipasi di Bintan Triathlon 2013 pada pertengahan Mei lalu.

"Mental itu memang tak bisa dilatihan hanya 1-2 bulan. Jadi, antisipasinya adalah dengan sering ikut lomba. Dengan cara itu kita jadi memperbanyak pengalaman dan ilmu untuk melatih mental," demikian sebuah wejangannya.

Selain kesiapan fisik dan mental, Reza mengingatkan bahwa kemampuan teknis juga sangat dibutuhkan. Berenang jarak jauh di laut, misalnya, berbeda dengan melakukannya di kolam renang. Ketimbang power, yang lebih dibutuhkan antara lain adalah efisiensi.

"Juga saat bersepeda. Perlu diingat, triatlon ini bukan kerja tim, tapi solo. Makanya dari segi teknis itu harus bisa ganti ban bocor, misalnya."

Reza menceritakan pengalamannya mengikuti sebuah triatlon di Bali. ketika sepeda yang ia tunggangi mengalami kebocoran ban sampai dua kali, padahal ban serep yang ia bawa pas-pasan

"Ya untungnya semua bisa diatasi. Makanya, pemahaman teknis itu penting. Karena dari tiga olahraga yang ditandingkan, seperti renang, lari, sepedalah yang paling banyak memiliki masalah teknis," katanya.

Selanjutnya ….

MetaMan Bintan 2013, Puasa, Doa dan Ritual Kamar Mandi

Menghadapi MetaMan Bintan 2013 yang digelar pada 31 Agustus mendatang, Reza pun terus melakukan persiapan. Hanya saja ia harus membuat strategi khusus terutama selama bulan puasa.

"Saya sudah buat programnya. Latihan enam kali seminggu, dua jam per harinya, sisa satu hari buat istirahat," ujarnya.

Reza mencontohkan, hari Senin sebagai hari beristirahat. Kemudian latihan hari Selasa dengan fokus berlari selama setengah jam. Keesokan harinya ia bersepeda, Kamis berenang. Untuk lari danΒ  bersepeda, ia biasa melakukannya pada sore hari sampai waktu berbuka, sedangkan renang sehabis salat tawarih.

Selain persiapan yang sifatnya teknis, yang juga diperhatikan Reza adalah urusan nonteknis.

"Sebenarnya ini bukan ritual yang khusus banget, tapi saya selalu berdoa sebelum bertanding. Sama ada satu lagi yang tidak boleh dilewatkan: pergi ke kamar mandi dua jam sebelum mulai bertanding," tambahnya seraya tertawa.

"Ritual" yang dilakukan Reza ini bukan tanpa alasan. Sebabn iaya pernah mengalami pengalaman kurang mengenakan di saat mengikuti sebuah perlombaan.

"Waktu itu pernah ada pengalaman di Singapura. Itu benar-benar nggak enak banget, dan nggak mungkin dong melipir ke pohon, apalagi itu di Singapura," selorohnya lagi.

Selanjutnya ….

Target Menjadi 'Manusia Besi'

Setelah terbiasa mengikuti lomba lari jarak jauh termasuk maraton, dan juga triatlon, Reza menyatakan dirinya mencanangkan sebuah tekad lain, yaitu ingin bisa menjajal kategori full ironman triathlon, yang jarak tempuhnya lebih panjang: 3,8 kilometer berenang, 180 km bersepeda, dan 42,2 km lari.

"Saya punya gol yang lebih besar, saya ingin lakukan full iron man. Dan saya sudah mendaftar untuk triatlon di Melbourne bulan Maret tahun depan," kata dia penuh semangat.

Sejak mendaftarkan diri untuk mengikuti event Ironman di Melbourne tersebut, Reza pun telah membuat perencanaan untuk melakukan persiapan selama kurang lebih satu tahun. Selain dengan mengikuti berbagai lomba triatlon di tahun ini, ia juga akan melakukan penyesuaian-penyesuaian tertentu.

"Suhu air (laut) di sana nanti bisa mencapai 11 derajat. Kali di sini, harus latihan di mana coba. Mungkin harus ke Bandung ya, hehehe ..."

Reza juga meyakini bahwa dengan latihan yang serius dan komitmen, semua bisa dijalani dengan baik, meski pada akhirnya kemenangan atau menjadi juara bukanlah tujuannya.

"Saya tidak ngejar podium. Saya mengejar achivement untuk diri saya pribadi. Lagipula banyak kategori achievement yang bisa dimenangkan. Misalnya di triatlon Singapura tahun lalu catatan waktu saya 6 jam 20 menit. Mudah-mudahan tahun ini saya cuma enam jam. Ya mudah-mudahan bisa tembus," imbuhnya.

Halaman 2 dari 3

Menghadapi MetaMan Bintan 2013 yang digelar pada 31 Agustus mendatang, Reza pun terus melakukan persiapan. Hanya saja ia harus membuat strategi khusus terutama selama bulan puasa.

"Saya sudah buat programnya. Latihan enam kali seminggu, dua jam per harinya, sisa satu hari buat istirahat," ujarnya.

Reza mencontohkan, hari Senin sebagai hari beristirahat. Kemudian latihan hari Selasa dengan fokus berlari selama setengah jam. Keesokan harinya ia bersepeda, Kamis berenang. Untuk lari danΒ  bersepeda, ia biasa melakukannya pada sore hari sampai waktu berbuka, sedangkan renang sehabis salat tawarih.

Selain persiapan yang sifatnya teknis, yang juga diperhatikan Reza adalah urusan nonteknis.

"Sebenarnya ini bukan ritual yang khusus banget, tapi saya selalu berdoa sebelum bertanding. Sama ada satu lagi yang tidak boleh dilewatkan: pergi ke kamar mandi dua jam sebelum mulai bertanding," tambahnya seraya tertawa.

"Ritual" yang dilakukan Reza ini bukan tanpa alasan. Sebabn iaya pernah mengalami pengalaman kurang mengenakan di saat mengikuti sebuah perlombaan.

"Waktu itu pernah ada pengalaman di Singapura. Itu benar-benar nggak enak banget, dan nggak mungkin dong melipir ke pohon, apalagi itu di Singapura," selorohnya lagi.

Selanjutnya ….

Setelah terbiasa mengikuti lomba lari jarak jauh termasuk maraton, dan juga triatlon, Reza menyatakan dirinya mencanangkan sebuah tekad lain, yaitu ingin bisa menjajal kategori full ironman triathlon, yang jarak tempuhnya lebih panjang: 3,8 kilometer berenang, 180 km bersepeda, dan 42,2 km lari.

"Saya punya gol yang lebih besar, saya ingin lakukan full iron man. Dan saya sudah mendaftar untuk triatlon di Melbourne bulan Maret tahun depan," kata dia penuh semangat.

Sejak mendaftarkan diri untuk mengikuti event Ironman di Melbourne tersebut, Reza pun telah membuat perencanaan untuk melakukan persiapan selama kurang lebih satu tahun. Selain dengan mengikuti berbagai lomba triatlon di tahun ini, ia juga akan melakukan penyesuaian-penyesuaian tertentu.

"Suhu air (laut) di sana nanti bisa mencapai 11 derajat. Kali di sini, harus latihan di mana coba. Mungkin harus ke Bandung ya, hehehe ..."

Reza juga meyakini bahwa dengan latihan yang serius dan komitmen, semua bisa dijalani dengan baik, meski pada akhirnya kemenangan atau menjadi juara bukanlah tujuannya.

"Saya tidak ngejar podium. Saya mengejar achivement untuk diri saya pribadi. Lagipula banyak kategori achievement yang bisa dimenangkan. Misalnya di triatlon Singapura tahun lalu catatan waktu saya 6 jam 20 menit. Mudah-mudahan tahun ini saya cuma enam jam. Ya mudah-mudahan bisa tembus," imbuhnya.

(mcy/a2s)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads