Menyelaraskan Prestasi dan Pendidikan Atlet

Masa Depan Atlet di Indonesia (Bagian 4)

Menyelaraskan Prestasi dan Pendidikan Atlet

Femi Diah - Sport
Rabu, 21 Agu 2013 17:08 WIB
Menyelaraskan Prestasi dan Pendidikan Atlet
Ilustrasi: ANTARA/Puspa Perwitasari
Jakarta - "Bermain sepakbola itu penting, akan tetapi sekolah jauh lebih penting". Kalimat itu diungkapkan Bambang Pamungkas lewat blog-nya dengan judul 'Tiga Modal Dasar untuk Menjadi Seorang Atlet yang Baik'.

Rumusan itu diamini atlet-atlet lain, bahkan oleh mereka yang belum sempat membaca pernyataan Bepe itu. Manusia tercepat Asia Tenggara, Suryo Agung Wibowo, salah satunya. Pendidikan dijadikan mantan pelari jarak pendek kelahiran Solo 29 tahun silam itu sebagai sebuah investasi.

Sadar kariernya tak bakal seawet pekerja kantoran, Suryo rela menyita waktu istirahatnya untuk masuk kelas. Bolak-balik Jakarta-Semarang pun dilakoni demi predikat sarjana.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Suryo pun dinyatakan lulus dengan IPK 3,4 dari Universitas Negeri Semarang pada 2009 lampau. Kini, saat pensiun, statusnya sudah mahasiswa S2 Universitas Negeri Jakarta.

"Saat S1 saya hanya membayar SPP pada semester pertama, selebihnya beasiswa karena prestasi di atletik," kata Suryo. Beasiswa itu juga didapatnya setelah memutuskan untuk melanjutkan ke jenjang S2.

"Berat untuk menyelesaikan prestasi dan sekolah secara bersamaan. Tapi saya juga tak bisa membiarkan diri lulus SMA. Lulusan SMA mau jadi apa?" kata Suryo.

Perenang nasional, I Gede Siman Sudarwata, juga tak bisa berleha-leha meski menjadi perenang paling kinclong di pelatnas saat ini. Perenang kelahiran Klungkung, Bali, 18 tahun silam itu menjadi penyiram dahaga gelar juara cabang olahraga renang di SEA Games. Dia mendonasikan empat emas dari nomor andalannya, gaya punggung.

Namun, Siman tak mau hanya jadi lulusan SMA. Dia ingin mencicipi bangku kuliah. "Malu sama pelatih yang lulusan universitas di Amerika Serikat," kata Siman yang saat ini dibesut Albert C. Sutanto.

Menyadari masih masuk kategori anak manja setiap latihan, Siman memutuskan menerima beasiswa dari Perbanas. Dia menolak tawaran kuliah bebas biaya dari beberapa universitas di AS.

Padahal dengan keputusan itu Siman menyadari harus gali lubang tutup lubang untuk membiayai dirinya di pelatnas. Maklum, uang saku senilai Rp 5 juta perbulan tak mencukupi.

"Uang sakunya lumayan kurang karena saya masih harus beli protein dan vitamin sendiri. Belum lagi celana renang yang harus ganti setiap 10 kali pakai," kata Siman. Dia sih menyiasati dengan memanfaatkan uang tabungan dari bonus saat meraih medali emas SEA Games lalu.

"Makanya saya juga bertekad masuk kuliah tahun ini karena saya menyadari durasi profesi sebagai atlet sangat terbatas," kata dia.



(fem/a2s)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads