Dinasti Olahraga Indonesia (2)

Gagang Sapu yang Melanjutkan Dinasti Angkat Besi Nasution

- Sport
Senin, 09 Sep 2013 17:10 WIB
detikSport/Femidiah
Jakarta - Sori Enda Nasution tak bisa menutupi kegembiraannya siang itu. Putra sulungnya, Sandow Weldemar Nasution, pulang dan menceritakan pengalaman yang tak biasa.

"Ayah, saya bisa angkat besi," kata Sandow kecil. Kalimat pendek itu benar-benar melekat di ingatan Bang Ucok, sapaan karib Sori Enda Nasution, meski kini kejadian tersebut sudah lewat berpuluh tahun lamanya.

Di luar mereka yang berkutat di cabang angkat besi, nama Sori Enda Nasution mungkin kurang familiar terdengar. Padahal pria itu adalah salah satu lifter terbaik yang pernah dipunya Indonesia dengan prestasi di antaranya menembus empat besar Olimpiade Los Angeles 1984. Dalam beberapa tahun terakhir Sori Enda Nasution berada di belakang layar, menjadi pelatih yang memunculkan atlet-atlet berkaliber medali Olimpiade dan Asian Games seperti Fatmawati, Erwin Abdullah dan Heri Setiawan.

Soal anaknya yang akhirnya mau berlatih angkat besi, Sori Enda memang pantas bersuka cita. Maklum, sebelumnya Sandow terlihat kurang berminat ikut latihan angkat besi, yang tempat latihannya berada di rumahnya sendiri. Sori Enda justru membimbing lifter dari daerah lain: titipan provinsi untuk PON ataupun pelatnas ke SEA Games.

Sandow kecil pada awalnya lebih senang menghabiskan waktu bermain freestyle dengan sepeda BMX-nya. Rumahnya yang tak jauh dari sekolah olahraga Ragunan, Jakarta memudahkan kakak Sendy Nasution itu menemukan kawan ber-freestyle.

"Tapi lingkungan memang jadi faktor penting buat anak-anak. Bagaimana saya bisa melepaskan diri dari angkat besi kalau ke depan, ke belakang ke samping kanan atau kiri, seluruh isi rumah membicarakan angkat besi," kisah Sandow menceritakan awal dia mau ikut latihan angkat besi.

Di rumah itu Sori Enda memang sudah menelurkan lifter berkualitas. Fatmawati, Erwin Abdullah dan Heri Setiawan adalah sedikit nama atlet angkat besi andalan Merah Putih yang dibesutnya.

"Saya justru mulai mengangkat besi bukan dari ayah. Pelatih-pelatih lain yang mengajarkannya," lanjut Sandow.

"Ayah sudah mengajarkan angkat besi sejak kecil. Tidak langsung, tapi pakai gagang sapu. Dia mengajarkan teknik-teknik yang benar," sahut Sandow mengenang masa kecilnya.

Totalitas Sandow di cabang angkat besi bisa dibilang mulai muncul saat kelas 1 SMA. Melihat anaknya punya bakat, Sori Enda menanyakan keseriusan putra pertamanya itu. "Saya tantang dia untuk ikut kejuaraan nasional junior. Eh, dia dia siap," kenang Sori Enda.

Kejuaraan nasional junior itu lantas jadi titik awal karier Sandow di cabang olahraga angkat besi. Sandow yang lahir tahun 1981 mulai bisa menikmati ketegangan yang dia rasakan saat belakang dan di atas panggung perlombaan. Lama-lama dia ketagihan mengisi skuat pelatnas.

Jalan yang dipilih Sandow sebagai seorang lifter terbukti tak salah. Dia merebut dua medali emas di SEA Games 2005 dan 2007 saat turun di kelas 77 kg. Sementara di kejuaraan Asia tahun 2007 dia sukses merebut medali perak. Langkah Sandow berikutnya adalah Olimpiade.

Keberhasilan Sandow lolos ke Olimpiade kembali memunculkan keharuan besar dalam diri sang ayah. Apa yang dia lakukan di Olimpiade Los Angeles tahun 1984 diulangi anaknya di Beijing 2008.

Sori Enda Nasution dan Sandow Weldemar Nasution bukan keluarga Nasution pertama yang berkiprah di cabang angkat besi dan memberi prestasi pada negeri ini. Di tahun 1960 Indonesia memiliki Asber Nasution, yang tak lain adalah paman dari Sori Enda Nasution.

Sama seperti Sori Enda dan Sandow Weldemar, Asber juga pernah berlaga di Olimpiade. Dia menjadi wakil Merah Putih pada Olimpiade 1960 di Roma. Atas torehan-torehan bersejarah yang dicatatkan, namanya bahkan diabadikan menjadi nama GOR Asber Nasution di Tebing Tinggi, Sumatera Utara.

Deby Susanti Kabilaha Pelopor Angkat Besi Putri

Sori Enda Nasution bukan sekadar mantan dan pelatih atlet angkat besi. Selain punya anak yang kini juga jadi lifter, Sori Enda juga memelopori cabang angkat besi putri, melalui istrinya sendiri, Deby Susanti Kabilaha.

Tak cukup dirinya sendiri menjadi lifter dan kemudian mencetak atlet angkat besi berprestasi melalui anaknya Sandow Weldemar Nasution, Sori Enda Nasution ternyata juga menjadi pelopor munculnya cabang angkat besi nomor putri di Indonesia.

Untuk memunculkan atlet angkat besi putri jelas bukan perkara mudah karena dia harus menemukan sosok yang benar-benar menyukai olahraga tersebut. Tapi pencarian Sori Enda trenyata tidak jauh-jauh karena yang jadi 'Kelinci percobaan' tak lain adalah istrinya sendiri Deby Susanti Kabilaha. Deby menjadi pembuka jalan mulai diperlombakannya event-event angkat besi nomor putri.

Sori Enda membuat kelompok wanita dilombakan pada kejuaraan nasional angkat besi 1984. Bukan pekerjaan mudah waktu itu. Tentangan didapatkan dari ibu negara waktu itu, Tien Soeharto. Pakaian lifter putri dianggap tak sopan.

Perang di media pun terjadi. Deby santai menanggapi. “Saya mundur setelah muncul lifter-lifter putri. Kan tujuan utama sudah terpenuhi,” kata Deby.

Dinasti angkat besi Nasution tampaknya tak akan berhenti setelah Sandow pensiun. Sabrio tampaknya mulai gandrung dengan angkat besi. Setiap kali ditanya tentang pilihan masa depan, bocah berusia 3 tahun itu dengan lantang memilih angkat besi daripada menembak seperti ibundanya, Maxima Rizado.

“Saya sih terserah anaknya. Tidak ada paksaan,” kata Dodo, sapaan karib Maxima Rizado. Sandow malah ingin Sabrio jauh-jauh angkat besi. Deraan cedera punggung dan porsi latihan keras setiap hari menjadi pertimbangan. “Balapan motor saja,” kata Sandow.




===

Artikel sebelumnya:
Dinasti Olahraga Indonesia (Bagian 1): Mainaky Bersaudara: Meraih Prestasi, Membibit Generasi
(fem/din)