Dinasti Olahraga Indonesia (4)

Harry Tjong dan Dua Generasi Sepakbolanya

- Sport
Senin, 09 Sep 2013 19:42 WIB
detikSport/Rengga Sancaya
Jakarta - DNA sepakbola Harry Tjong kental menurun pada dua cucunya Andro Levandy dan Adixi Lenzivio. Di rumah, mereka menjadikan sepakbola sebagai diskusi keluarga, bersama ayahnya yang juga eks timnas, Adityo Dharmadi.

Sepakbola selalu menjadi topik pembicaraan hangat dan sudah seperti rutinitas buat keluarga Adityo Dharmadi. Di rumah yang kental dengan nuansa Persija Jakarta itu -- dengan dinding dan sofa ruang tamu berwarna oranye -- Helena, sang ibu, bahkan kerap nimbrung meramaikan pembicaraan.

Andro Levandy saat ini memperkuat PS Sumbawa Barat di Divisi Utama Liga Indonesia, sementara adiknya Adixi Lenzivio (21 tahun) kini memperkuat Persija Jakarta U-21 dan berposisi sebagai kiper. Mereka adalah cucu Harry Tjong, mantan kapten tim nasional Indonesia di era 1960-an. Nama Harry Tjong di tahun 1990-an juga sempat kembali mencuat saat dia dipercaya menjadi pelatih kiper tim Primavera yang berlatih jauh ke Italia.

Darah dan hasrat sepakbola Andro serta Adixi jelas datang dari kakeknya, yang menurun pada mereka melalui sang ibu. Dan itu makin diperkental karena ayahnya juga mantan penggawa timnas. Meski kini berstatus pegawai Jamsostek, Adityo Dharmadi adalah salah satu anggota skuat 'Merah Putih' saat berhasil menduduki posisi empat Asian Games 1986 di Seoul, Korea Selatan. Ketika itu Indonesia kalah di tangan Kuwait pada perebutan peringkat ketiga, tim yang sama kemudian meraih medali emas SEA Games.



Diskusi keluarga membahas sepakbola kadang makin ramai kalau tetangga mereka ikut nimbrung. Tetangga yang dimaksud tak lain adalah Harry Tjong sendiri, yang rumahnya berada di depan kediaman Keluarga Adityo Dharmadi.

Soal dua anaknya yang kini menggeluti sepakbola, Adityo menyebut dirinya tidak pernah memaksakan hal tersebut. "Saya tak pernah mengarahkan anak-anak untuk menjadi pesepakbola. Tapi, sejak kecil mereka sudah menunjukan minatnya pada sepakbola," ucap mantan permain Persija Jakarta itu.

Andro dan Adiksi pun kompak memperkuat pernyataan itu. Keduanya juga sepakat menyebut kakek dan neneknya lah yang menjadi 'penular' gen sepakbola itu.

Yang pertama dibidik Harry Tjong untuk 'diracuni' sepakbola adalah Andro. Caranya adalah dengan memberikan iming-iming: Harry menyodorkan tujuh pasang sepatu yang dibawa langsung dari Italia.

"Sepatu itu dibawa saat opa pulang dari melatih Primavera di Italia. Saya disuruh milih satu dari tujuh sepatu itu. Saya pilih yang merk Line Seven warna hitam," ungkap Andro.



Berbekal sepatu tersebut latihan Andro di Menteng Junior makin giat dijalanin. Setelah Menteng Junior bubar dia pindah berlatih ke AS IOP. Di sana dia dilatih sendiri oleh Harry Tjong. Jurus iming-iming sepatu tak hanya digunakan pasangan Harry dan Evi kepada cucu pertama mereka. Adixi juga diberikan godaan serupa.

"Sering diajak oleh kakek latihan di SSB AS IOP akhirnya saya tertarik buat ikut latihan juga. Waktu itu masih kelas 3 SD. Malah oma yang memberikan sepatu pertama kepada saya. Saya lupa merk dan warnanya," timpal Adixi yang kini masih menjadi ketiga Persija itu.

Keputusan Andro menggeluti sepakbola mulai menunjukkan hasil saat dirinya lolos seleksi timnas U-16 pada tahun 2002. Pesepakbola yang terakhir membela PS Sumbawa Barat itu juga hampir lolos ke timnas U-23 untuk SEA Games 2007 di bawah arahan Foppe de Han.

"Tinggal sebentar lagi berangkat ke Belanda, saya kena cedera ligamen. Karena cedera itu saya harus absen satu tahun," jelas pemain yang juga pernah memperkuat Pelta Jaya, Persela Lamongan, dan Persiba Bantul itu.

Sementara itu, Adixi mengikuti jejak sang Ayah dengan membela tim Macan Kemayoran. "Empat tahun membela tim junior Persija, mulai tahun ini saya mulai mendapatkan kepercayaan di tim utama," ungkapnya.

Tuah profesi turun-temurun itu tak hanya didapatkan kelompok putra dari keluarga itu. Helena bisa bebas berkonsultasi kepada ayah dan ibunya saat kedua anaknya mendapatkan musibah. Seperti ketika Andor dibekap cedera parah hingga harus istirahat selama enam bulan dan menghapus trauma.

"Saya konsultasi kepada mama dan papa. Cedera bisa sembuh lebih cepat tapi traumanya itu bagaimana," kata Helena.

Menurut Andro, mamanya jugalah yang paling heboh saat dia masuk daftar seleksi timnas ke Belanda. Juga 'cerewet' menelpon saat harus jauh-jauhan dari rumah saat dipanggil ke Medan.

Harry Tjong tak hanya mengandalkan menantu untuk meneruskan generasi sepakbola. Putra pertamanya Eduward Tjong juga memilih karir sebagai pemain dan melanjutkan sebagai pelatih. Billy Tjong juga serupa. Meski sudah menjadi pegawai di Bank Indonesia, dia pernah tercatat menjadi kiper tim nasional Indonesia.

(fem/din)