Rencana tersebut disampaikan oleh manajer pelatnas judo, Robin hud Mc. John, ketika dihubungi detikSport, Senin (16/9/2013). Ia mengatakan, tim yang berkekuatan 12 atlet putra-putri ini akan berangkat ke Jepang pada akhir September.
"Kalau tidak ada halangan, akhir bulan ini kami akan pergi ke Jepang untuk training camp di sana. Saat ini tinggal nunggu visa keluar saja," kata Robin hud.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Di sana itu kan banyak klub-klub judo Jepang yang bagus-bagus. Nanti kami akan cari kompetisi yang setara dengan atlet pelatnas kita. Jadi sekalian TC (training camp), sekalian juga atlet dapat pengalaman tanding," terang Robin hud.
Namun tak dimungkiri, untuk menjalani pelatnas di luar negeri bukanlah perkara mudah. Butuh pengorbanan dari berbagai pihak, baik atlet maupun pengurus judo. Apalagi, dana dari Satlak Prima belum juga turun.
"Ini terjadi atas niat PB (pengurus besar) Persatuan Judo Seluruh Indonesia (PJSI) sendiri. Makanya biayanya sendiri dibantu oleh ketua umum PB, juga dana gabungan dari KONI dengan PB," katanya.
Ia berharap, melalui pengorbanan ini atlet bisa mendapatkan ilmu dan pengalaman dari Jepang nanti. Namun ia juga tak terlalu sesumbar untuk mencanangkan sebuah target besar.
"Target emas ada, tapi berapanya saya belum bisa memastikan," ujar Robin hud.
Hal ini, kata dia, tak lepas dari persoalan yang mengganggu persiapan SEA Games, termasuk soal degradasi atlet seperti yang diminta Satlak Prima. Diakuinya, hal itu sedikit mengganggu program yang sudah dibuat oleh PB PJSI sebelumnya.
"Sebenarnya dari awal kami siapkan 16 atlet untuk 16 kelas. Tapi akhirnya, harus turun jadi 12 atlet karena Satlak minta ada pengurangan akibat dana terbatas. Ya, mau tak mau kita harus lakukan, tapi kan akhirnya jadi memengaruhi target kami juga. Makanya, kita juga tidak bisa menjamin dengan keterbatasan jumlah nomor yang diikuti," ujar Robin hud.
(mcy/mfi)










































