Sinta Darmariani: Antara Latihan, Harapan, dan Uang Saku yang Tersendat

Sinta Darmariani: Antara Latihan, Harapan, dan Uang Saku yang Tersendat

Mercy Raya - Sport
Jumat, 20 Sep 2013 16:12 WIB
Sinta Darmariani: Antara Latihan, Harapan, dan Uang Saku yang Tersendat
Istimewa
Jakarta -

Ia mengambil bubuk magnesium lalu mengoleskan ke telapak tangan kiri dan kanannya, kemudian mengepal kuat-kuat stik barbel, lalu … hupp! Seketika barbel yang tadinya di lantai, sudah tepat di atas kepala.

Wajah Sinta Darmariani yang tadinya biasa, berubah menjadi agak kemerahan. Otot tangannya mengencang karena menahan barbel seberat 50 kilogram. Dalam waktu sekian detik barbel kemudian terlempar ke bawah. Dentuman keras barbel yang mengena lantai pun bergema di dalam ruangan latihan.

Begitulah aktivitas Sinta dalam menjalani hari-harinya di pemusatan latihan nasional cabang olahraga angkat besi. Meski hari sudah semakin siang, ia tetap bergelut dengan besi-besinya itu. Sesekali ia beristirahat untuk mengumpulkan tenaganya, sebelum akhirnya mengulang kembali kegiatannya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Orang awam yang melihat aktivitas itu mungkin akan berpikir ulang untuk mencobanya. Namun, bagi putri pasangan Lolin Ariani dan Made Sudarmawan ini, melakoni bidang itu sudah seperti santapannya sehari-hari. Setidaknya ia bisa melakukan lebih dari 10 kali setiap latihan.

Sinta mengaku butuh waktu sekitar dua tahun untuk bisa mengangkat beban seberat itu. "Kalau untuk pemula biasanya yang diajarkan teknik dulu seperti angkat tongkat tiga bulan. Kalau sudah benar-benar bagus baru bisa pakai stik," terang Sinta saat berbincang-bincang dengan detiksport usai menjalani latihan di Senayan, Jakarta, Jumat (20/9/2013).

"Stik itu kalau untuk di putri beratnya 15 kilogram, kalau putra 20 kilogram. Setelah terbiasa, baru bisa ditambahkan bebannya. Iu juga bertahap misalnya tambah beban 5, 10 atau 15 kg, tergantung kemampuan kita," katanya.

Sebab angkat beban itu tidak boleh maksa. "Jangan karena tubuh kita besar, trus angkat barbel yang berukuran besar juga. Tidak seperti itu, ada tahapannya."

Sinta mengibaratkan seperti rumah, bahwa pondasi dulu yang harus dibangun agar rumah itu kuat. "Sama seperti badan kita, mesti pemanasan dulu. Ototnya dibangun dulu setelah itu bisa angkat beban. Susah juga sih, tapi kalau memang kita mau jadi lebih baik ya harus belajar," terangnya.

Kemauan belajar itulah yang terus dipupuk Sinta hingga dia menjadi atlet yang berprestasi di kancah internasional. Sudah puluhan prestasi ia dapatkan dari angkat besi ini. Di SEA Games 2011, misalnya, Sinta meraih medali perak. Misal lain, ia mendaapat emas dari PON XVIII tahun 2012.

Catatan prestasi itu juga menjadi alasan Pengurus Besar Persatuan Angkat Berat Besi dan Binaraga Seluruh Indonesia (PB PABBSI) memanggil Sinta kembali menjadi salah satu andalan angkat besi yang dipersiapkan untuk SEA Games, di Myanmar, Desember mendatang.

"Seneng sih, dipanggil lagi," tutur wanita bernama lengkap Ni Luh Sinta Darmariani itu.

Ironisnya, rasa kebanggaan Sinta dipanggil pelatnas tak sebanding dengan apa yang ia dapatkan. Pemusatan yang sedianya dilakoni sejak Agustus ini, harus dihadapinya dengan berbagai hambatan. Boro-boro untuk urusan nutrisi, uang saku tiga bulan terakhir pun masih tersendat.

"Dibandingkan yang kemarin sih, walau jumlahnya sedikit tapi masih lancar. Sekarang (seraya menghela nafas) … Nggak tahu ya pemerintah ada masalah apa,” ujarnya.

Perempuan kelahiran Denpasar, 22 Desember 1986 ini merinci, seharusnya dia mendapat uang sebesar Rp 5 juta per bulan. "Lima juta itu juga belum dipotong pajak lima persen. Tahu tuh, dari dulu nggak beda-beda," sahutnya. Padahal ia harus menutupi kebutuhan pribadinya, di samping membantu kebutuhan keluarganya juga.

Sinta sedianya tak ingin mengeluh, tapi ia mencoba realistis dengan kondisi yang ada. "Ya mau dibilang kita mengeluh, mau gimana. Seharusnya pemerintah lebih peduli. Kita (atlet) peduli terhadap Indonesia, berlatih mati-matian, tapi dari orang-orang itu yang harusnya ada timbal balik lah. Wajar kita menuntut. Masa depan di sini, keringat kita, sudah mengorbankan keluarga juga, tapi…"

Kondisi ini, lanjut dia, cukup berpengaruh terhadap latihan yang dia dan rekan-rekannya lakukan. Namun bukan berarti ia langsung mogok tidak latihan.

"Ada program tetap dijalanin, ya sudah. Tapi kan tetap saja mikir kenapa gaji belum keluar ya, mau bolos latihan kita nya yang rugi juga. Jadi serahkan saja sama Yang di Atas," ungkapnya.

Sembari berserah, ia juga tetap memasang harapan agar pemerintah bisa lebih bijaksana menghadapi persoalan yang ada. Karena sebenarnya bukan hanya materi saja yang mereka butuhkan tapi juga perhatian.

"Bukan dari segi materi saja, tapi perhatian juga dari pemerintah," tambah Sinta. Misalnya, datang ketika latihan.

"Tidak perlu segerombolan tapi yang penting kita kenal. Kita 'kan juga pengen tahu siapa pemerintah yang perhatian sama kita, karena itu bisa jadi motivasi buat kita juga," sebutnya.



(mcy/a2s)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads