Mengenakan kaos berkerah berwarna oranye dan celana biru tua, ia sedang asik memeragakan gerakan-gerakan tangan dan kaki ketika akan melompat dari atas papan lompat setinggi 10 meter dari permukaan air.
Usai memerhatikan arahan sang pelatih, Adit, salah satu atlet pelatnas loncat indah langsung memeragakan apa yang sudah diajarkan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Bahunya rileks ... (sambil memegang bahu) jangan terlalu tegang," kata sang pelatih kepada Adit.
Cui Hongda, 32 tahun, adalah pelatih asing asal China, yang secara khusus diundang Pengurus Besar Persatuan Renang Seluruh Indonesia. Ia bertugas untuk mengajari teknik dengan lebih detail kepada para atlet yang dipersiapkan untuk SEA Games 2013, di Myanmar, Desember nanti.
Ia sudah tiga hari mengajari Adit dkk. Meski Cui tak terlalu lancar berbahasa Inggris, namun para atlet mengaku lumayan mengerti dengan apa yang diajarkan.
"Anak-anak mengerti semua, tidak ada masalah, karena kita mengajari kan pakai gerakan, hanya kata-kata tertentu saja diucap," kata pelatih loncat indah, Harli Ramayani kepada detikSport.
Tak hanya itu, Harli juga merasakan betul kemajuan dari para atletnya setelah pelatih dari China itu datang bergabung.
"Semuanya (sudah) kelihatan sekali progress-nya. Khususnya di bagian teknik, sudah lebih detail. Kita 'kan punya kekurangan di entry-nya (saat masuk ke air). Jadi bagaimana sebisa mungkin pada saat entry tidak ada cipratan, stabil dengan tidak banyak cipratan air. Itu yang sedang dibenahi oleh pelatih China ini," katanya.
Andriyan, salah satu atlet pelatnas loncat indah, juga mengungkapkan hal senada. "Ya pasti ada, teknik saya sudah lebih detail. Saat masuk air, biasanya tangan saya selalu terlambat menutup, tapi sekarang suruh cepat menutup, teknik kekuatannya juga," kata pria berusia 18 tahun ini.
Andriyan memang bukan kali ini saja dilatih oleh pelatih asal China. Pada SEA Games 2011, timnya juga mendapat ilmu dari pelatih asal China. "Sudah pernah, waktu SEA Games kemarin dilatih juga sama pelatih sana, jadi sedikit-sedikit sudah mengerti," ujarnya.
Hal yang sama juga dirasakan Adit. "Semua bisa dipahami apa yang diajarkan pelatih, soalnya saya pernah dua bulan juga latihan di China," akunya.
Adit biasanya memerhatikan intruksi pelatih lewat gerakan tangan sang pelatih. Tangan, kata Adit, ibarat tubuh kita. Jari-jari itu kaki, sementara pergelangan tangan itu adalah kepala.
"Jadi kalau jari-jari pelatih membengkok, itu artinya kaki kita tidak lurus," ujar Adit.
Cui mengatakan, sejauh ini latihan yang dilakukan oleh para atletnya ini mulai mengalami perbaikan. "Mereka sudah bagus, secara teknik juga oke, hanya perlu bertahap untuk lebih bagus lagi," kata Cui yang pernah menangani atlet senior di Singapura dan Korea ini.
Namun ada sedikit yang perlu dibenahi. Cui menilai dari sisi skill ketika latihan saat junior masih kurang bagus, sehingga pada saat seperti ini tingkat kesulitannya jadi lebih tinggi. "Teknik mereka pada saat masih kecil masih kurang bagus. Jadi itu juga yang akhirnya membuat tingkat kesulitan latihan yang sekarang jadi lebih tinggi," tambahnya.
"Meski demikian, hal itu tak dijadikan ia sebagai masalah yang berarti. Tetap bisa, walau harus dibenahi secara pelan-pelan (bertahap)," kata Cui.
(mcy/mfi)











































