Hal itu diketahui setelah Komite Olimpiade Indonesia (KOI), beserta Kemenpora dan Satlak Prima meninjau lokasi pertandingan. Hasilnya, medan yang ditempuh tidaklah mudah.
"Kemarin kami bersama tim advance datang ke Mynamar, selama tiga hari untuk meninjau lokasi pertandingan. Setelah mengamati saya pikir untuk medan kali ini cukup sulit," kata Rita Subowo dalam jumpa pers di kantor KOI, Senayan, Rabu (13/11/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal senada juga diungkap Asril Tanjung selaku Deputi Chef de Mission (CDM) Indonesia. Ia yang turut serta dalam rombongan tim evaluasi tersebut mengatakan sudah mencoba jalur-jalur yang akan digunakan kontingen di Myanmar nanti.
"Saya sudah meninjau lokasi sana, jadi saya coba dari Yangoon menuju Nay Pyi Taw, berangkat pakai pesawat, pulangnya jalur darat," kata Asril Tanjung.
"Yangoon menuju Nay Pyi Taw itu bisa menghabiskan waktu sekitar 5 jam, sementara Yangoon ke Ngwe Saung sekitar 12 jam, itu jalur darat, sementara Yangoon ke Mandalay 15 sampai 23 menit," tambahnya.
Menyadari medan yang sulit, rencananya KOI sudah membuat rancangan agar mempermudah kenyamanan para atlet. "Rencana A kita menggunakan pesawat, jadi kami akan buat jadwal penerbangan terpisah. Atlet yang bertanding di Yangoon, dari Jakarta akan langsung kita drop di sana, begitu juga dengan lokasi lainnya, karena kalau bolak balik dari Yangoon ke Nay Pyi Taw itu tidak mungkin, akan butuh waktu cukup panjang. Akan berpengaruh pada kebugaran si atlet," katanya.
"Sayangnya, sampai saat ini jalur penerbangan itu hanya satu, kami akan coba minta kepada Myanmar untuk membuka jalur penerbangan lagi."
Selain jarak yang cukup berjauh antara lokasi satu dengan yang lainnya, komunikasi menjadi faktor lain yang juga di soroti tim KOI. "Di sana itu jaringan internet dan komunikasi sangat sulit. Makanya rencananya kita akan kirim tim survei lagi untuk mengatur apa yang akan kita buat. Mudah-mudahan semuanya bisa lancar," simpulnya.
(mcy/roz)











































