Sejak pukul 08.00, Roy beserta rombongan memulai "blusukan" dari tempat latihan hoki, kemudian panahan, lalu berlanjut ke cabang olahraga atletik yang berada di Stadion Madya. Setelah itu, dia menuju ke empat cabang olahraga lain seperti muaythai, tenis meja, gulat, dan berakhir di lokasi latihan kempo di kawasan Stadion Gelora Bung Karno, Senayan.
Dalam kunjungan tersebut, atlet-atlet pelatnas tampak begitu bersemangat menyambut kedatangan rombongan Menpora.
Roy banyak memberikan motivasi kepada para atlet saat berkunjung ke tempat latihan gulat, muaythai, dan kempo. Sebelum meninggalkan lokasi, tak lupa dilakukan foto bersama.
Cerita berbeda datang saat Roy mendatangi tempat latihan karate. Saat itu, setelah dia memberi motivasi, Roy yang hendak melakukan foto bersama justru diminta untuk bertahan sebentar untuk mendengar keluhan salah satu atlet karate, Aswar. Aswar merupakan atlet dari nomor kata beregu putra.
Aswar yang mewakili rekan-rekannya mengungkapkan keluh kesahnya selama melakukan pemusatan latihan. "Sebentar Pak (seraya mengacungkan tangannya ke atas) saya ingin berbicara," kata Aswar.
Roy yang mendengar hal itu kemudian mempersilakan Aswar mengeluarkan pendapatnya.
"Saya mau bicara soal kendala-kendala latihan, pak. Peralatan tanding waktu SEA Games 2011 bagus. Tapi kenapa sekarang menurun. Berobat bayar sendiri, peralatan belum datang semua. Itu Pak teman saya (seraya menunjuk temannya) dia beli deker sendiri," ungkap Aswar.
"Banyak yang bilang Garuda di dadaku. Garuda itu sudah ada sejak lama di dada kami pak, tapi kenapa gaji dan konsumsi nggak pernah berubah kualitasnya," tambahnya.
Mendengar keluhan dari Aswar, Roy pun memberikan tanggapan.
"Kita harus tahu, SEA Games pada waktu di Indonesia dengan di Myanmar itu berbeda. Ketika di Indonesia nomor-nomor yang dipertandingkan sudah pasti. Sementara di Myanmar masih terus ada perubahan nomor," tutur Roy.
"Kalian yang di karate masih beruntung, karena tidak ada pencoretan, sementara di cabor lain nomornya masih ada pencoretan, bahkan ada beberapa cabang olahraga yang tidak dipertandingkan. Kalau soal kesehatan memang tidak bisa ditolerir, segera harus ditangani. Kalau soal dana dan peralatan sedang terus diusahakan dan kita cari," imbuhnya.
Usai melakukan kunjungan ke tempat-tempat latihan beberapa cabang olahraga itu, Roy mengungkapkan tujuan utamanya.
"Jadi kedatangan saya ini untuk memberi semangat kepada mereka. Saya akui dan tekankan kepada mereka, tidak perlu ada yang ditutup-tutupi. Kalau ada kekurangan sampaikan, saya terima masukan itu. Saya juga sampaikan kepada masyarakat target-target kita. Dengan begini kita lebih mantap mengantar atlet," ujarnya.
Roy mengatakan, dari kunjungannya ini, dia tahu bahwa yang paling banyak dikeluhkan oleh atlet adalah soal keterlambatan peralatan.
"Ya, soal peralatan yang terlambat. Di samping (dulu) sempat ada soal akomodasi, masalah lain seperti hak yang mereka terima (uang saku), karena dari mereka ada yang berlatih sejak Oktober 2012, awal tahun, hingga kuartal pertama. Kemudian perubahan nomor yang dipertandingkan, dan perubahan waktu yang memengaruhi lelang peralatan, dan terakhir soal lelang peralatan," terangnya.
"Tapi bagaimanapun semua sudah bisa berjalan, semua sudah dilakukan dengan cepat," kata pria berkumis ini.
Ia juga berjanji, setelah kunjungan ini, pekan depan rencananya ia akan melakukan kunjungan lagi ke beberapa cabang olahraga.
"Kunjungan ini Insya Allah akan saya lakukan lagi. Karena saat ini para atlet sedang pada tahap puncaknya. Moga-moga pada saat di Myanmar tanggal 11-22 Desember 2013, kemenangan yang diperoleh bisa tercapai. Saya juga berharap walau kunjungan ini singkat tapi bisa bermakna bagi kita semua," ujar Roy.
(mcy/mfi)










































