Pertarungan melawan Sipho Taliwe di Metro City, Perth, Jumat (6/12/2013), adalah kali ketiga Daud bertanding di Australia. Sebelumnya, petinju kelahiran Ketapang itu menghadapi Frankie Archuleta (November 2011) dan Daniel Eduardo Brizuela (Juli 2013) di Negeri Kanguru. Dia memenangi dua pertarungan tersebut.
Sebelum melawan Taliwe, Daud berlatih di Harry's Gym, Perth, selama sekitar satu setengah bulan. Selain dilatih oleh kakaknya, Damianus Yordan, Daud juga mendapatkan sparring dengan petinju-petinju dari beragam kelas dan karakter.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pilihannya banyak. Mau yang cepat, mau yang keras, mau yang bandel, mau yang lari-lari, ada semua. Semuanya dipakai," sambungnya.
"Di sini sarana jelas lebih bagus. Menu latihan juga bagus. Spartan pagi dan malam, pagi dan sore, pagi dan malam. Sabtu-Minggu memang istirahat karena Senin sampai Jumat kita dipacu untuk latihan keras," jelas Daud.
Dengan berlatih dan bertarung di Australia, berarti Daud harus jauh dari istri dan anaknya dalam waktu yang tidak sebentar. Meski demikian, komunikasi dengan keluarganya tak terputus berkat bantuan teknologi. Petinju 26 tahun itu juga merasa selalu mendapatkan dukungan penuh dari mereka.
"Di sini masak sendiri, nyuci sendiri, tidur sendiri, hehehe....," kata Daud.
"Komunikasi jalan terus ya. Sekarang media kan banyak, ada telepon, ada BBM, ada SMS, ada Twitter, Facebook, dan lain-lain. Jadi, komunikasi sama istri, anak, orang tua. Nggak ada masalah," tambahnya.
"Mereka paham betul bahwa ini pekerjaan saya. Mereka hanya bisa mendorong dan memotivasi setiap setiap hari, pagi siang sore. Mereka memberikan kepercayaan kepada saya untuk melaksanakan pekerjaan ini. Saya juga memberikan kepercayaan kepada mereka untuk saya tinggalkan di sana," ujar Daud.
"Mereka menyayangi kehidupan saya seperti mereka menyayangi kehidupan mereka sendiri. Jadi, siapa sih orang yang nggak sayang sama dirinya sendiri? Mereka selalu memotivasi, mulai dari yang teknis dan nonteknis," katanya.
Selama di Perth, Daud tidak memakai waktu luangnya untuk jalan-jalan ke berbagai sudut kota. Dia lebih memilih tetap berada di gym dan terus mengasah kemampuan bertinjunya.
"Saya nonton tinju atau nonton lawan saya. Saya menambah kemampuan saya terus. Saya merasa berlatih tidak cukup. Saya harus menambahnya dengan cara nonton. Sekitar 1-2 persen bisa kita serap dan kita praktekkan. Kalau itu dilakukan terus-menerus, dikalikan saja tiap hari," terangnya.
"Nggak (jalan-jalan). Karena saya fokus ke pekerjaan ini. Bukan hanya untuk saya pribadi, tapi banyak orang yang bergantung pada ini. Artinya, pertandingan ini kan nggak lepas dari promotor, nggak lepas dari sponsor, nggak lepas dari kesempatan. Kalau waktu sekarang digunakan untuk hal-hal yang nggak penting, buat apa. Lebih baik diskusi sama abang, cerita-cerita, sauna, renang di gym, istirahat, nonton (tinju) lagi," kata Daud.
Meski demikian, Daud selalu terkoneksi dengan dunia luar. Dia selalu online selama di gym dan banyak berinteraksi dengan rekan-rekannya melalui dunia maya.
"Kalau laptop lagi dipakai buat tinju, kadang tablet juga nyala dan BBM-an juga. Saya selalu online di gym. Dapat dukungan dari teman-teman di luar. Lewat Facebook, Twitter," katanya.
"Saya aktif di Twitter. Tapi, yang follow saya belum banyak. Dulu sudah banyak, tapi saya lupa passwordnya. Akhirnya buat baru. Follow saja @daudcinoyordan," ujar Daud sembari terkekeh.
(mfi/krs)










































