Atlet lompat jangkit putri Indonesia, Maria Natalia Londa, akhirnya menuai prestasi tertinggi di pentas SEA Games. Setelah perunggu dan perak, ia pun mendulang emas.
Emas itu didapatnya di Myanmar setelah memenangi babak final di Wunna Theidik Indoor Stadium, Nay Pyi Taw, Selasa (17/12/2013). Maria menjadi yang terbaik dengan lompatan sejauh 14 meter 17 centimeter.
Atlet asal Bali itu mengalahkan dua rival terdekatnya, yaitu Thitma Maungjan (Thailand/ 14,16 m) dan Hue Hoa Tran (Vietnam/ 14,12 m), yang masing-masing memperoleh medali perak dan perunggu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak pelak ini menjadi penampilan terbaik atlet berusia 23 tahun itu di ajang SEA Games. Sebelumnya, berturut-turut ia hanya memperoleh perunggu di Laos (2009) dan perak dua tahun lalu di Palembang.
"Senang pasti, karena sesuai apa yang saya targetkan juga. Tapi masih ada besok lompat jauh. Jadi, berdoa supaya bisa berhasil juga, dan memecahkan rekor lompatan, karena kita latihan βkan untuk itu," ujar Maria sambil tersenyum, atas kemenangannya itu.
Sementara itu pelatih lompat jauh dan lompat jangkit Indonesia, I Ketut Pageh, merasa puas karena anak didiknya berhasil memenuhi apa yang telah ditargetkan.
"Apa yang didapat hari ini adalah hasil kerja keras , dan kami sebagai pelatih memang menargetkan dia bisa memecahkan rekor baru di sini. Dan akhirnya dapat," ucap Ketut.
Ia menambahkan, selain nomor lompat jangkit, rekor baru juga ditargetkan pada Maria di nomor lompat jauh, yang akan dipertandingkan Rabu besok. Hanya saja, perkiraannya meleset, karena ternyata yang lebih dulu diperlombakan adalah lompat jangkit.
"Saya pikir lompat jauh yang duluan, ternyata lompat jangkit. Akhirnya sekarang saya hanya buka peluang fifty-fifty untuk lompat jauh," ungkapnya.
"Apalagi Maria sekarang ada masalah di tumit. Pada lompat jangkit tadi, di lompatan kelima dia ada sedikit masalah di tumit. Dan saya sendiri sebagai pelatih ambil keputusan, tidak ada lompat keenam. Apapun hasilnya kita pasrah pada Yang Mahakuasa. Kami bersyukur juga lawan kehabisan tenaga, makanya tidak bisa mengejar."
Ketut mengatakan, dirinya selalu menyesuaikan volume latihan dengan perkembangan Maria, termasuk soal target emas di Myanmar.
"Waktu di Laos saya tidak berani menargetkan emas dan perak karena saya pikir Maria belum bisa. Ibarat tumbuhan ia belum bisa berbunga. Lalu di Palembang ia dapat perak, dan sekarang dapat emas," terangnya.
(mcy/a2s)











































