Rini menjadi salah satu atket Indonesia yang menyumbang emas pada hari Rabu (18/12/2013). Turun di nomor 3.000 meter halang rintang, dia menjadi yang pertama menyentuh gari finis dengan waktu 10 menit 4,54 detik. Dia mengalahkan dua atlet Vietnam yang berada di posisi dua dan tiga.
"Bahagia sekali karena masih bisa mempertahankan emas. Ini adalah emas kedua setelah lima kali saya ikut SEA Games," kata Rini usai pertandingan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Nge-down karena kemarin kan hasil Triyaningsih meleset dari apa yang diprediksikan. Saya juga sama Tri itu sangat dekat, istilahnya saya sama dia itu sudah makan sepiring berdua, satu atap tempat tidur, entah itu saat latihan di Pengalengan, atau saat di wisma Myanmar, kami bersama. Dia itu seperti adik saya sendiri, jadi saya ikut merasakan apa yang dia rasakan. Sedih sekali. Karena itu juga saya jadi takut kalau ternyata hasil saya meleset juga," ceritanya.
"Tapi namanya sudah di pertandingan tetap harus mental kita siap, makanya saya berusaha tetap fokus saja," tambahnya kemudian.
Adalah dukungan penuh dari rekan seperjuangan yang membuat Rini bisa tetap kompetitif dan malah menjadi yang terbaik. Apa yang dia rasakan berangsur hilang seiring dengan motivasi yang diberikan teman-temannya.
"Ya kalau di tempat saya, di kamar kami selalu berusaha saling men-support satu sama lain, 'ayo kamu harus bisa'. Semuanya, setiap yang mau bertanding pasti begitu. Beri kami semangat, biar kalau kamu berhasil kami bisa termotivasi. Memang saling mendukung sih. jadi ayo kamu bisa, kamu juga bisa," ujarnya menirukan.
Emas di Myanmar merupakan yang kedua yang diraih Rini selama mengikuti SEA Games sejak tahun 2001. Emas pertamanya didapat dua tahun lalu di Palembang juga pada nomor 3.000 meter halang rintang. Selebihnya adalah medali perunggu pada SEA Games 2005 nomor 5000 meter. Lalu medali perak tahun 2007 nomor 1.500 meter dan 5.000 meter.
Protes Anak dan Motivasi Keluarga
Menjadi salah satu atlet penyumbang emas di cabang olahraga atletik memang menjadi sebuah kebanggaan bagi Rini Budiarti. Bagaimana tidak, perjuangannya untuk memperoleh itu tidaklah mudah.
Ia harus mengorbankan anak, suami, serta waktu untuk keluarga. Jadi sangatlah wajar jika Rini mengharapkan hasil yang terbaik pada ajang multi even kali ini.
"Saya prinsipnya jangan sampai apa yang sudah saya persiapkan jauh-jauh hari itu, menjadi sia-sia. Saya sudah meninggalkan anak dan suami, waktu saya korbankan untuk latihan di Pengalengan, masa sih saya harus gagal. Ngenes banget kan kalau sampai gagal. Makanya, motivasi terbesar saya untuk bisa menjadi juara adalah keluarga," ucapnya.
Bukan itu saja, anak semata wayangnya yang berusia empat setengah tahun, Zahfiar Utia Rachman, harus ekstra diberi pengertian khusus agar bisa menerima profesi ibunya sebagai atlet.
"Wah anak saya itu bukan protes lagi. Dia kadang-kadang itu sampai bilang, mama engga sayang aku ya? kok aku dtingggal terus," ujarnya menirukan pertanyaan anaknya.
"Anak saya itu kalau protes sadis, tapi ya akhirnya kita hibur atau diiming-imingi apa gitu, bisa dia mau ditinggal. Kayak mengajak anak jalan sebelum kita pergi, pokoknya dia minta kemana kita iyain," ujarnya seraya tertawa.
Tak jarang, si buah hati akhirnya dititipkan kepada orang tua di rumah. Beruntung, anaknya memiliki saudara sepupu yang juga bisa menemani sang anak saat bermain.
Namun, biasanya setelah ditinggal lama. Istri dari Jemy Utia Rachman ini berusaha untuk menyiapkan waktu khusus dengan keluarga.
"Liburan bareng keluarga sih pasti. Biasanya malah suami yangs udah mengaggendakan semuanya. Tanggal sekian pergi kemana, berapa hari. Dan pergi liburannya yang menyenangkan buat anak, bukan orang tuanya hahaha. Seperti ke tempat-tempat pantai, atau apa. Saya paling duduk, anak main," simpulnya.
(mcy/din)











































