Saat detiksport berkeliling di kawasan Wunna Theikdi Indoor Stadium, Nay Pyi Taw, lapak yang dijaga tiga wanita muda ini terbilang salah satu yang paling ramai dikunjungi orang, dari sekian banyak pedagang yang berjualan di areal tersebut.
Selidik punya selidik, ternyata sang pedagang memakai strategi promosi βserbuβ alias "serba seribu". Sejumlah atribut seperti topi, bendera, terompet, atau tas, diharga seribu kyat (atau sekitar Rp 12 ribu).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami sudah jualan sejak hari pertama SEA Games. Keuntungannya juga lumayan, bisa sampai 100 persen," tambah dia dengan bahasa Inggris terbata-bata yang dicampur dengan bahasa isyarat.
Aye dan kedua rekannya itu mengaku sengaja membanderol dagangannya menjadi "serbu" supaya menarik minat para konsumen. "Yang paling laku bendera dan terompet," sahut Aye Maw.
Di lapak lainnya, Yinko (27 tahun) menjual barang dan mematok harga yang lebih variatif pada dagangannya. Untuk sebuah bingkai foto ia menjual sekitar 15 ribu sampai 20 ribu kyat. Sementara untuk kaos oblong bergambar SEA Games, ia menjual di kisaran 5 sampai 8 ribu kyat.
Meski harga barang dagangannya terbilang lebih mahal dari yang lain, namun ia optimistis rezeki yang dia peroleh tak kalah manis.
"Saya untung juga kok, kira-kira 100 persen. Persaingan (harga) wajar saja. Tinggal bagaimana kita menjualnya. Saya tidak masalah," tutur Yinko sambil meladeni pembeli.
Untuk diketahui, kurs 1 kyat Myanmar saat ini sekitar Rp 12. Bahkan mata uang Indonesia masih lebih rendah daripada negara yang terbilang baru "melek" dengan dunia internasional itu.
(mcy/a2s)











































