Jualan 'Serbu' ala Pedagang Myanmar

Laporan dari Myanmar

Jualan 'Serbu' ala Pedagang Myanmar

Mercy Raya - Sport
Jumat, 20 Des 2013 11:50 WIB
Jualan Serbu ala Pedagang Myanmar
detiksport/raya
Nay Pyi Taw - Seperti umumnya jika ada perhelatan besar, pedagang-pedagang lokal pun mengais rezeki dari ajang SEA Games XXVII di Myanmar. Dapat apa belanja "Serbu" di negara berjulukan "Tanah Emas" (Golden Land) itu?

Saat detiksport berkeliling di kawasan Wunna Theikdi Indoor Stadium, Nay Pyi Taw, lapak yang dijaga tiga wanita muda ini terbilang salah satu yang paling ramai dikunjungi orang, dari sekian banyak pedagang yang berjualan di areal tersebut.

Selidik punya selidik, ternyata sang pedagang memakai strategi promosi β€œserbu” alias "serba seribu". Sejumlah atribut seperti topi, bendera, terompet, atau tas, diharga seribu kyat (atau sekitar Rp 12 ribu).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ya, ini semua serba seribu," ucap Aye Zar Iwin (23) kepada detiksport. Ia ditemani dua kawannya, Aye Maw (23) dan Htyak Yee (24).

"Kami sudah jualan sejak hari pertama SEA Games. Keuntungannya juga lumayan, bisa sampai 100 persen," tambah dia dengan bahasa Inggris terbata-bata yang dicampur dengan bahasa isyarat.

Aye dan kedua rekannya itu mengaku sengaja membanderol dagangannya menjadi "serbu" supaya menarik minat para konsumen. "Yang paling laku bendera dan terompet," sahut Aye Maw.

Di lapak lainnya, Yinko (27 tahun) menjual barang dan mematok harga yang lebih variatif pada dagangannya. Untuk sebuah bingkai foto ia menjual sekitar 15 ribu sampai 20 ribu kyat. Sementara untuk kaos oblong bergambar SEA Games, ia menjual di kisaran 5 sampai 8 ribu kyat.

Meski harga barang dagangannya terbilang lebih mahal dari yang lain, namun ia optimistis rezeki yang dia peroleh tak kalah manis.

"Saya untung juga kok, kira-kira 100 persen. Persaingan (harga) wajar saja. Tinggal bagaimana kita menjualnya. Saya tidak masalah," tutur Yinko sambil meladeni pembeli.

Untuk diketahui, kurs 1 kyat Myanmar saat ini sekitar Rp 12. Bahkan mata uang Indonesia masih lebih rendah daripada negara yang terbilang baru "melek" dengan dunia internasional itu.

(mcy/a2s)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads