Ketua Umum Komite Olimpiade Indonesia (KOI) Rita Subowo meminta maaf atas hasil buruk kontingen Indonesia di SEA Games XXVII. Rita sekaligus meminta pemerintah segera menyodorkan solusi tumpang tindih kewenangan KOI dengan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI).
Rentetan persoalan yang mengiringi persiapan SEA Games dijawab dengan oleh kontingen Indonesia dengan hanya berada di peringkat keempat. Hanya 65 medali emas, perolehan yang meleset jauh dari target 120 emas.
Pencapaian itu sekaligus memperpanjang frekuensi Indonesia terlempar dari urutan tiga besar SEA Games, menjadi tiga kali dalam sejarahnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Wanita yang pernah menjabat sebagai ketua umum PP PBVSI itu menyesalkan sederet problem yang mewarnai persiapan SEA Games XXVII. Rita tak ingin pengelolaan yang buruk itu terulang lagi. Apalagi, ada event lebih besar yang menunggu, Asian Games XVII di Incheon, Korea Selatan.
"Menpora, Prima, KONI, dan KOI harus segera duduk bersama untuk menyamakan visi dan memberikan solusi terbaik. Peran PB dan PP juga harus diperkuat lagi karena merekalah yang memiliki atlet," kata Rita.
Namun, Rita menampik jika ketidakharmonisan dengan KONI disebut-sebut sebagai pemicu kegagalan hasil SEA Games kali ini. Sebab, KOI merasa sudah menjalankan fungsi dengan benar.
"Saya sebagai orang yang paling tidak setuju pemisahan KONI dan KOI. Tapi Undang-Undang menyatakan demikian maka harus dijalankan," ucapnya.
"Memang di antara KONI dan KOI ada ketidakharmonisan tapi kami mempunyai batasan tugas sendiri-sendiri. Tapi memang tak bisa dibiarkan begini terus-menerus, pemerintah harus segera mencari solusi terbaik," kata Rita.
"Memang di antara KONI dan KOI ada ketidakharmonisan tapi kami mempunyai batasan tugas sendiri-sendiri. Tapi memang tak bisa dibiarkan begini terus-menerus, pemerintah harus segera mencari solusi terbaik," kata Rita.
Sebelumnya, pemerintah melalui Menpora Roy Suryo kemarin mengatakan pihaknya bertanggung jawab atas kegagalan ini. Ia juga mewacanakan peleburan kembali KONI dan KOI. Sementara itu Ketua Umum KONI Tono Suratman merasa prihatin atas kemunduran prestasi ini, namun menganggap pihaknya telah bekerja maksimal.
"Kegagalan ini bukan tanggung jawab saya. Saya minta satu rantai komando, dari kementerian (pemuda dan olahraga), desakan kepada KOI, tapi semua tidak berjalan lancar. Saya sudah bikin program, tapi anggaran digedok sesuai selera bukan kebutuhan. Pemerintah dong yang harus bertanggung jawab," ujarnya.
(fem/a2s)










































