Satuan Pelaksana Program Indonesia Emas (Satlak Prima) sudah menetapkan 1 Februari 2014 sebagai jadwal dimulainya pemusatan latihan yang akan dijalani atlet-atlet Asian Games.
Selain jadwal, Satlak rupanya juga menetapkan enam bidang yang menjadi pedoman sekaligus tes untuk para atlet selama melakoni pelatnas. Enam bidang itu antara lain, sport medicine, nutrisi, perfomance, kepelatihan, psikologi, dan biomekanik.
"Kita akan mencoba dengan tes awal yang kita punya, supaya kita tahu kondisinya seperti apa. Yang jelas enam bidang ini kaitannya dengan sport science," ujar ketua Satlak Prima yang baru, Suwarno, ketika ditemui di Kantor KONI Pusat, Jakarta, Kamis (16/1/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seperti diketahui, pada perhelatan SEA Games 2013 di Myanmar, Indonesia terperosok ke posisi empat, dari sebelumnya juara umum. Baik Satlak Prima, KONI, KOI, maupun pemerintah mengatakan kontingen yang berangkat adalah yang terbaik.
Hal ini pun menjadi sorotan Suwarno, mengingat dirinya saat ini yang diberi tugas untuk mempersiapkan semuanya. "Hanya ada dua hal pokok subtansi dalam olahraga. Pertama, melatih dan memfasilitasi atlet agar jadi juara. Kedua, menyiapkan kontingen yang ada dengan kemampuan kita.
"Kalau lihat kayak Myanmar kemarin, apakah itu sudah bisa dibilang kontingen terbaik? Melatihnya bagaimana, memfasilitasinya seperti apa? Lompat galah, dengan galah pinjaman, apa itu bisa dibilang terbaik. Lalu sepak takraw yang bertanding tanpa ada cadangan, apakah itu sudah bisa dikatakan kontingen terbaik?
"Sementara jika bicara kontingen, ya bicara atlet, managernya, fasilitasnya, pelatihnya, semuanya termasuk soal anggaran. Jika butuhnya 100 miliar, tapi dikasih 60 miliar, ya kita maksimalkan 60 miliar itu untuk yang terbaik. Apalagi sekarang dikatakan DIPA sudah bisa digunakan karena tidak dibintang oleh Kementerian Keuangan. Sekarang tinggal konsistensi anggarannya, itu bener gak, tersendat tidak. Kalau tersendat bisa kita tagih," paparnya.
Tak hanya itu, ditambahkan Suwarno, ia juga tidak segan-segan meminta pertanggung jawaban PB/PP cabang olahraga jika targetnya yang dicanangkan tidak tercapai. "Soalnya multievent ini tidak bisa disamakan seperti single event, just for fun, atau pengalaman saja. Ini berkaitan dengan kehormatan harkat dan martabat bangsa. Makanya, harapan saya, supaya atlet yang masuk pelatnas ini memiliki visi yang sama," tutupnya.
(mcy/a2s)










































