Dana Terus Jadi Masalah Jelang Ajang Multievent

Dana Terus Jadi Masalah Jelang Ajang Multievent

- Sport
Minggu, 25 Mei 2014 15:35 WIB
Dana Terus Jadi Masalah Jelang Ajang Multievent
detikSport/Mercy Raya
Jakarta - Masalah dana masih menjadi polemik bagi setiap cabang yang melakoni pemusatan latihan nasional (pelatnas) menjelang ajang multievent tiba. Tak terkecuali Asian Games tahun ini.

Tak hanya soal uang saku yang terhambat, bonus, hingga akomodasi serta suplemen sebagai kebutuhan prioritas atlet juga terlambat karena dana yang belum juga turun.

Terakhir, pelaksanaan uji coba yang kian terbatas. Padahal untuk bisa mencapai target sembilan emas atau memperbaiki peringkat dari rangking 15 ke posisi 10, kontingen Indonesia membutuhkan banyak uji coba.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tujuannya, selain mengukur kemampuan, dengan uji coba setiap cabang juga bisa memantau kekuatan lawan. Sayangnya hal itu rupanya tak berbanding lurus dengan apa yang harusnya didapatkan.

Alih-alih bisa beruji coba lima sampai enam kali justru dibatasi hanya dua kali. Selebihnya pakai kocek sendiri. Pemerintah pun beralasan semua karena keterbatasan dana.

Lantas sebenarnya berapa jumlah dana yang dibutuhkan tiap cabang untuk melakoni uji coba, dan bagaimana dukungan pemerintah sekaligus pengurus untuk memuluskan prestasi atletnya di tingkat Asia. Berikut penuturan beberapa pengurus cabor kepada detikSport menanggapi hal tersebut.

Renang

Bagi cabang terukur seperti renang, uji coba merupakan salah satu jalan untuk melihat kemampuan peningkatkan prestasi atlet. Sayangnya, dari enam uji coba yang yang diajukan ke Satuan Pelaksana Program Indonesia Emas (Satlak Prima), hanya dua uji coba yang diakomodir. "Itu pun kita harus memilih dua yang kita inginkan," cetus pelatih renang nasional Albert C Sutanto.

Albert menjelaskan, untuk jatah uji coba pertama dari Satlak Prima, pihaknya baru menggunakannya pada saat uji coba Kejuaraan Nasional Kelompok Umur di Singapura, April lalu. Sementara satu uji coba lainnya belum digunakan, karena masih menunggu jawaban dari Satlak.

"Kami inginnya Amerika, karena di sana level anak-anak bisa semakin meningkat. Selain itu secara kualitas dan kompetisi di sana lebih bagus," kata Kabidbinpres PRSI Heru Purwanto.

Menyoal soal dana yang dibutuhkan, Heru menilai, untuk kawasan yang dekat dengan Indonesia Malaysia atau Singapura mungkin masih bisa ditanggulangi. Tapi, untuk wilayah Eropa, disebutnya sangat mahal sekali.

"Sebenarnya setiap multievent berbeda, tapi karena ini Asian Games tentu kuota atletnya juga sedikit dibandingkan SEA Games. Anggarannya tiap uji coba juga variatif, tergantung yang ingin kita jalani," katanya.

Albert menuturkan untuk ke Amerika, paling tidak pihaknya harus memiliki dana sekitar Rp 100- 120 juta per atlet. Itu sudah termasuk akomodasi, tiket. Tapi belum biaya pertandingan" kata Albert. "Atlet yang dikirim pun tidak full team. Minimal tiga atlet, I Gede Siman Sudartawa, Triady Fauzi Siddiq, dan Glenn Victor dari enam atlet pelatnas. Itu hasil pembicaraan dengan pengurus renang. Tapi masih menunggu juga jawaban dari Satlak, karena mereka masih mau lihat target kita juga," tambahnya.

Balap Sepeda

Tak jauh berbeda dengan renang, balap sepeda juga memiliki keluhan yang sama soal dana. Ketua Umum PB ISSI Edmound Simorangkir mengatakan, untuk satu multievent saja biaya yang dibutuhkan cabang cukup tinggi.

"Sekitar Rp 1,2 miliar per multievent. Waktu di SEA Games Myanmar saja kemarin Rp 1,4 miliar. Ya karena Asian Games ini atletnya lebih sedikit, kebutuhannya paling minimal setengahnya dari SEA Games tahun lalu," kata Edmound.

Itu sudah termasuk uji coba. "Kita berencana uji coba ke Kazakhstan, Juni nanti. Biaya tiketnya sekitar Rp 25 juta per atlet, belum kebutuhan lainnya," katanya.

Tim manajer pelatnas balap sepeda Asian Games Bayu Neneng Wahyuni juga mengungkapkan hal senada. "Saat ini pemerintah hanya memberi jatah dua uji coba per nomor. Seperti road race dua uji coba, BMX, dan MVB."

"Untuk road race sekiranya kami butuh biaya sekitar Rp 600 juta ke dua lokasi uji coba, yakni China dan Kazakhstan. China saya ajukan sekitar Rp 200 juta, Kazakhstan sekitar Rp 400 juta, tapi saya kurang tahu juga apakah dana itu diakomodir semua atau tidak. Kalau untuk keberangkatannya sudah disetujui. Mudah-mudahan semua itu diakomodir, karena biaya itu sudah termasuk tiket dan akomodasi selama di sana."

Para pengurus cabang balap sepeda ini pun berharap agar pemerintah bisa lebih memperhatikan atlet-atlet yang berjuang di Asian Games nanti.
"Kami mengharapkan pemerintah prihatin sama keadaan kita. Bagaimapun juga atlet ini tidak bisa kita sepelekan, karena mereka yang berjuangn di lapangan. Kalau istilahnya kita tidak bisa beri suplai, bagaimana dia bisa siap tempur," tambah Edmound.

Panahan

Tak jauh berbeda dengan dua cabang lainnya, Sekretaris Jenderal PP Perpani sekaligus manajer pelatnas Asian Games, Alman Hudrie mengatakan, harusnya ada tiga coba yang dilakukan para atletnya dalam rangka menuju Asian Games.

Tiga uji coba itu antara lain, kualifikasi Kejuaraan Dunia seri 1 di Shanghai (Mei), Turki, dan kualifikasi kejuaraan dunia di Polandia (Agustus).

Alman menjelaskan, Di Shanghai pihaknya harus menalangi lebih dulu untuk keperluan di sana. "Biayanya sekitar Rp 125 juta untuk empat atlet. Itu sudah biaya pertandingan, tiket, dan akomodasi selama di sana. Tapi sampai sekarang belum jelas kapan digantinya. Karena sistemnya reimburse.
Sementara untuk uji coba di Turki, tidak jadi karena sampai sekarang tidak ada jawaban dari Satlak. Kemungkinan kita hanya melakukan uji coba terakhir sebelum Asian Games di Polandia, bulan Agustus."

"Untuk Polandia kita juga belum dapat jawaban. Tapi perkiraan biayanya sampai sekitar Rp 100 juta."

Angkat Besi

Manajer tim pelatnas angkat besi Dirdja Wihardja mengatakan untuk biaya keperluan multievet seperti Asian Games, pihaknya membutuhkan biaya sekitar 2 miliar. "Biaya itu untuk memenuhi kebutuhan seperti akomodasi (seperti suplemen dan vitamin), dana try out, dan gaji sekitar 10 atlet hingga September mendatang. Kalau full team mungkin lebih dari itu," kata Dirdja.

"Kalau melihat dukungan pemerintah sampai sekarang belum maksimal. Seperti akomodasi, gaji sudah tapi dibayar setelah bulan berjalan."

(mcy/roz)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads