Triyatno di Ambang Absen di Asian Games

Triyatno di Ambang Absen di Asian Games

- Sport
Senin, 30 Jun 2014 19:07 WIB
Jakarta -

Lifter Triyatno hampir dipastikan batal ikut ke Asian Games 2014, menyusul cedera lutut yang masih membekas pada dirinya.

Triyatno merupakan salah satu atlet yang diproyeksikan PB PABBSI menuju Asian Games 2014. Ia terpilih lantaran memiliki pengalaman di beberapa ajang di tingkat Asia dan Olimpiade.

Pada Asian Games 2010 Triyatno berhasil menyumbang medali perunggu di kelas 60 kilogram. Sementara Olimpiade London 2012, ia berhasil merebut medali perak di kelas yang sama.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pada SEA Games 2013, lifter andalan Indonesia itu absen karena harus menjalani proses penyembuhan usai operasi lutut.

Setelah pulih dari cederanya ia pun dipersiapkan untuk bisa mengikuti Asian Games dan menjalani latihan di Balikpapan sejak Januari lalu.

Sayangnya, meski setiap minggu mengalami peningkatan dalam latihan.Triyatno justru masih dibayangi trauma cedera yang pernah dialaminya.

"Kalau mau dibilang ada peningkatan latihan pasti ada. Tapi untuk bersaing di level Asia sepertinya belum. Soalnya kemarin saya lihat ketika latihan berat masih suka merasa trauma dengan cederanya. Dia masih suka terbayang sakitnya. Kalau angkat berat begini bisa nggak? Sakit nggak? Jadi sebenarnya psikologisnya yang diserang," ungkap manajer tim pelatnas angkat besi, Dirdja Wihardja, ketika ditemui di Sekretariat PB PABBSI, Senayan, Jakarta, Senin (30/6/2014).

"Ya kalau memang tidak memungkinkan dia tidak turun di Incheon, dia tetap dipersiapkan untuk ke kualifikasi Olimpiade."

Peluang Triyatno untuk meraih medali semakin sulit karena kelas yang akan ia mainkan didominasi negara-negara seperti China dan negara-negara pecahan negara Soviet, yang diyakini bakal menjadi pesaing terberatnya.

"Untuk kelas 77 kilogram bersaing di Asia cukup susah. Saya juga kan inginnya mengirim ke Incheon yang berpeluang dapat medali. Kemarin buat SEA Games saja untuk kelas 77 kita hanya dapat perunggu. Apalagi Asia," tambahnya.

"Selain itu total angkatan maksimal di level Asia khusus kelas 77 kilogram idealnya 360 kilogram. Saat ini dia hanya 314 kilogram. Dengan waktu yang tersisa sulit untuk mengejarnya," ujarnya.

Meski demikian, pihaknya baru akan memutuskan pada rapat pleno pengurus PABBSI pada pekan ini. "Pembentukan tim inti dan siapa saja yang bakal diturunkan nanti akan dibicarakan di rapat pleno pengurus pekan ini. Kita lihat siapa yang akan berpeluang," katanya.

Begitu soal target medali. Dirdja mengatakan hampir semuanya berpeluang. "Tapi yang paling besar ada di Eko Yuli Irawan, Sri Wahyuni, dan Deni. Deni itu kuda hitam," sebutnya. "Ya, tinggal support suplemennya dari pemerintah supaya cepat diberikan. Karena tidak mungkin manajer yang menalangi terus."

(mcy/a2s)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads