Hal itulah yang terjadi di event 4-Hours dan 8-Hours Endurance Race di Suzuka, Jepang. Memang balapan tersebut didominasi oleh tim dan pebalap tuan rumah. Namun begitu, tak sedikit jurnalis dari luar Jepang yang turut meliput.
Mendapat undangan dari Yamaha Indonesia, Detiksport menjadi salah satu jurnalis yang berkesempatan meliput event tahunan tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, para jurnalis mendapatkan sebuah buku panduan kompetisi yang di antaranya berisikan nama-nama pebalap dan tim yang berpartisipasi dalam kejuaraan balap ketahanan 4 jam dan 8 jam itu.
Yang jadi masalah adalah, buku tersebut berbahasa Jepang sehingga mereka yang bukan jurnalis setempat sama sekali tidak bisa membacanya. Kendala lain adalah hampir semua notifikasi yang dikeluarkan oleh penyelenggara turut berbahasakan Jepang dan hanya beberapa saja yang disertai dengan terjemahan dalam bahasa Inggris.
Media briefing yang diwajibkan diikuti oleh jurnalis sebelum bisa meliput kompetisi pun dilakukan oleh panitia dengan bahasa Jepang, tanpa disediakan translator atau minimal selebaran informasi dengan bahasa Inggris. Walhasil, Detiksport dan sejumlah jurnalis dari Indonesia pun hanya bengong saja.
Di hari Jumat (25/7) ketika penyelenggara mulai merilis hasil-hasil latihan bebas ataupun kualifikasi menggunakan bahasa Jepang lengkap dengan huruf Kanjinya. Memang hanya tim dan pebalap saja yang menggunakan bahasa lokal namun tentu saja pembacaan data menjadi tidak maksimal.

Barulah di balapan sedikit ada perubahan. Wawancara pemenang seusai lomba dan di sesi konferensi pers, penyelenggara menyediakan seorang penerjemah. Kendati rilis hasil masih tetap dengan 'format' yang sama.
Kami pun harus mencari-cari orang yang mampu menerjemahkan dan menuliskan huruf Kanji menjadi huruf latin. Untung saja, ada yang bisa membantu.
(rin/mrp)











































