Dongkrak Prestasi Olahraga dengan Revolusi Mental

Dongkrak Prestasi Olahraga dengan Revolusi Mental

- Sport
Rabu, 27 Agu 2014 08:08 WIB
Dongkrak Prestasi Olahraga dengan Revolusi Mental
ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra
Jakarta -

Dengan segudang potensi yang dimiliki tapi olahraga Indonesia justru syarat problem yang tak ada habisnya. Perlu ada sebuah revolusi untuk mengubah apa yang selama ini menjadi penghambat.

Presiden terpilih Joko Widodo pun diminta tak salah pilih saat menunjuk menteri olahraga. Satu usulan menyatakan, menteri olahraga harus sanggup melakukan revolusi mental di olahraga.

Tugas menteri olahraga dalam cabinet mendatang bakal makin berat. Ada dua ajang multicabang yang menunggu. Pertama menjadi tuan tumah Asian Games 2018 dan mengembalikan tradisi emas Olimpiade sejak 1992, tapi berhenti di 2012.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mantan Menteri Pemuda dan Olahraga Hayono Isman wanti-wanti menteri olahraga yang terpilih nantinya adalah seseorang yang mampu melakukan perubahan besar-besaran. Sebab, bukan hanya ditantang sukses menjalankan rencana menjadi tuan rumah Asian Games 2018 dan mengembalikan tradisii medali emas Olimpiade, tapi ada persoalan lebih besar yang dihadapi Indonesia.

"Kalau mau jujur, sebenarnya posisi prestasi olaharaga kita sangat kritis. Jadi kalaupun kita menang, pasti sifatnya menang dongkrakan. Artinya bukan karena pembinaan olahraga yang benar," kata Hayono kepada detikSport.

"Kita mengambil cabang-cabang yang memang kita kuasai (di SEA Games). Menurut saya itu tindakan yang semu dan memperlemah pembinaan olahraga. Kita jadi membodohi diri sendiri," tambah menpora periode 1993-1998 itu.

Ketua Bidang Pembinaan Prestasi Pengurus Pusat (PP) Persatuan Bulutangkis Indonesia (PBSI) Rexy Mainaky mempunyai penilaian lebih keras. Dia menilai olahraga Indonesia sudah tak bernyawa.

"Sekarang kita lihat olahraga Indonesia itu mati," sentil pria yang pernah menjadi pelatih tim nasional bulutangkis Inggris, Malaysia dan Filipina, sebelum ditarik mengurusi bulutangkis nasional itu.

"Tenaga kita dibutuhkan untuk mengangkat harkat bangsa dan negara. Tapi satu sisi kita juga dilupakan. Kita harapkan menpora ke depan adalah seseorang yang mampu meyakinkan presiden kalau olahraga adalah satu hal yang penting," ujar pria asal Ternate itu.



Azrul Ananda yang dinilai sukses mengembangkan pembinaan basket Indonesia melalui liga SMA DBL (sekarang Developmental Basketball League) mempunyai penilaian serupa. Dia menyoroti lembaga olahraga yang dikelola oleh orang-orang lama. Sudah begitu ada tumpang tindih tugas dan wewenang yang berimbas negatif pada perkembangan olahraga.

"Saya melihat, dunia olahraga kita masih terjebak dengan kebiasaan-kebiasaan masa lalu, penilaian-penilaian masa lalu. Dan sangat sedikit orang 'fresh' yang bisa memberi warna, karena begitu terlibat langsung mereka terjebak oleh 'kemasalaluan' olahraga kita," kata Azrul.

"Saya kira harus ada pembagian lebih jelas di dunia olahraga kita. Apa fungsi dan tujuan satu badan, apa fungsi dan tujuan yang lain, dan lain sebagainya.

"Sekarang banyak sekali yang overlapping dan melakukan hal yang serba sama. Sehingga olahraga kita tersibukkan oleh birokrasinya, sampai tidak sempat memikirkan seperti apa situasi olahraga A, B, dan C. Dan bagaimana setiap olahraga itu butuh sentuhan dan cara yang berbeda untuk maju dan berprestasi," jelas Azrul.



Lantas apa solusinya?

"Menurut saya olahraga Indonesia perlu penataan kembali. Bahkan kalau bisa ada semacam revolusi mental di olahraga, sehingga kembali kepada dasar olahraga itu sendiri," kata Hayono.

Menpora Roy Suryo memberi penekanan pada pentingnya kemampuan manajerial para pengurus olahraga, karena pada aspek itulah perubahan terbesar yang mesti dilakukan.

"Memakai resource yang lama saya pikir tidak masalah, asalkan manajemennya yang perlu ditata. Bisa-bisa saja mencari orang baru keseluruhan. Tapi jika demikian, starting-nya belum tentu bisa lebih mudah ketimbang melakukan spesifikasi dan spesialiasi. Contohnya, urusan teknis kepelatihan ya diserahkan pada pelatih, manajemen, bisnis, keorganisasian, ya diserahkan pada orang-orang yang memang mampu di bidang itu," ujarnya.

(fem/a2s)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads