Rita Subowo: Menteri Olahraga Harus Bisa 'Jalankan Mobil Mogok'

Rita Subowo: Menteri Olahraga Harus Bisa 'Jalankan Mobil Mogok'

- Sport
Rabu, 27 Agu 2014 14:00 WIB
Rita Subowo: Menteri Olahraga Harus Bisa Jalankan Mobil Mogok
foto-foto: detiksport/Agung Prambudhy
Jakarta -

Rita Subowo masih menjadi sosok sentral di olahraga Indonesia. Dia menjadi orang nomor satu di Komite Olimpiade Indonesia (KOI). Sederet persoalan yang menerpa olahraga Indonesia sudah ditemuinya.

Janji bertemu di Gedung KOI mendadak dipindah. Tidak jauh, Rita meminta detikSport menemui dia di salah satu tempat ngeteh di salah satu mal di kawasan Senayan, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Rita masih mengenakan atasan brokat berwarna hitam dipadu celana abu panjang abu-abu. "Saya habis melayat, tidak sempat ganti baju. Itu cucu juga ikut ke sini," kata Rita sembari menunjuk meja lain setelah kami duduk bersama.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lelah dan habis kepanasan seolah langsung lenyap ketika Femi Diah, Mercy Raya dan Agung Pambudy dari detikSport menyampaikan pertanyaan tentang masa depan olahraga Indonesia. Suasana kian santai saat teh terhidang di meja.

T: Saat ini Joko Widodo sedang menjaring usulan menteri lewat media sosial. Apakah Anda bisa menyebut kriteria seorang menteri olahraga?

J: Tidak usah seorang menteri, menjadi pimpinan olahraga itu harus menguasai olahraga. Bukan hanya menguasai network-nya tapi menguasai apa sebetulnya olahraga.

T: Jadi harus mengerti benar tentang olahraga?

J: Bukan hanya dia juga rajin berolahraga, tapi passion-nya berolahraga, rohnya. Kalau mau tahu saja bisa di-googling. Nantinya seorang menteri itu harus mengurusi olahrag, bukan diurusi. Jadi harus punya passion. Kalau tidak punya passion susah, karena dia akan mengganggap itu sebagai beban.

T: Faktanya persoalan olahraga Indonesia memang lebih sering mengemuka dibandingkan prestasi. Apakah karena persoalan itu?

J: Menjadi menteri itu 'kan harus bertanggung jawab, memikirkan anggaran, harus mendengar dan memberikan solusi terhadap begitu banyak persoalan. Jadi kalau bisa memang mengenal dan cinta olahraga. Jadi tidak merasa jadi beban. Sehingga ketika ada masalah, jangan aduh bagaimana ini. Kalau minta anggaran, aduh hanya biaya saja.

T: Selain mempunyai passion, apalagi yang harus dimiliki seorang menteri olahraga?

J: Muda. Dalam artian usianya muda. Enerjik dan sekali lagi dia harus punya passion.

T: Pemahaman seperti apa yang harus dimiliki seorang menteri olahraga itu?

J: Pemerintah harus punya visi kalau olahraga itu sebuah investasi. Sport itu kayak mobil mogok, didorong saja diawal, nanti kalau sudah jalan, akan melaju sendiri. Tapi pertama kali kita harus ivestasi, jangan dianggap cost.

T: Kalau misalnya Jokowi tak lagi memunculkan Menteri Olahraga menurut Anda?

J: Ya tidak masalah, dulu juga olahraga ada di bawah kementrian pendidikan nasional. Olahraga menjadi dinas. Jadi tidak masalah, mau di bawah dikbud atau dijadikan satu dengan pariwisata, atau jika berdiri sendiri sebagai menteri olahraga. Di bawah apapun olahraga itu tetap olahraga. Dia tak akan dusta. Karena semua rekornya ada dan olahraga mempunyai sportifitas. Jadi mau ditaruh mana saja sudah bagus atlet kita.



T: Tapi bukankah olahraga sedang ditunggu hajatan besar untuk menjadi tuan rumah (kalau disetujui OCA) dan mengembalikan tradisi olahraga?

J: Tidak masalah. Pak Jokowi dan Pak Ahok sudah memberikan restu dan itu mempunyai arti yang luar biasa.

T: Berandai-andai lagi, kalau Menteri Olahraga tetap seperti sekarang digabung dengan Pemuda. Bagaimana pendapat Anda?

J: Begini, pemuda dengan olahraga itu bertolak belakang. Kalau pemuda itu sarat dengan politik. Karena aspek itu bertugas menyiapkan young generation atau penerus negara Indonesia makanya berbau politik. Sebaliknya kalau olahraga sama sekali tidak bisa digabung politik.

T: Sudah bekerja sama dengan beberapa menteri sebelumnya, sebenarnya apa yang belum digarap oleh mereka?

J: Pendidikan yang memadai untuk atlet. Sebagian besar atlet kita itu bukan dari keluarga kaya raya. Jadi edukasinya harus kita bantu. Saya punya cita-cita negara ini mempunyai padepokan. Karena dengan punya kampus/padepokan sendiri, atlet kita bisa punya waktu belajar sendiri, dan lainnya.

T: Anda menganggap pada akhirnya langkah itu meringankan kerja menteri olahraga?

J: Pembinaan atlet itu bukan di Prima atau di daerah, tapi di cabang olahraganya sendiri, karena mereka yang tahu membina atlet. Baru didukung atlet daerah, baru di dukung KONI daerah. Karena tidak kuat, makanya banyak terjadi mutasi. Tapi kalau PB-nya kuat semua bisa jalan. Menteri bisa fokus.

T: Faktanya pembinaan olahraga selalu terkendala masalah klasik. Dana, manajemen, kelembagaan yang tumpang tindih.

J: Iya selalu saja begitu, masalah-masalah klasik. Tapi kita harus tetap fokus ke prestasi. Dari sanalah bisa ditentukan prioritas. Tidak semua cabang kita samaratakan, karena porsinya terbatas. APBN, APBNP terbatas. Kalau dibagi porsi yang sama Olympic sport, Asian sport atau SEA Games sport dengan cabang olahraga lainnya.

T: Dengan banyak PR tadi apakah seorang menteri olahraga harus punya power yg besar untuk bisa menyelesaikan konflik?

J: Tidak perlu. Menyelesaikan konflik bukan dengan power. Dengan dia punya passion olahraga pasti muncul sifat-sifat sportivitas, kebijaksanaan-kebijaksaan olahraga, di dalam olahraga harusnya yang keluar bahasanya olahraga, bukan somasi atau hukum.

T: Jadi lebih oke ya kalau BAORI (Badan Arbitrase Olahraga Indonesia) tidak punya kerjaan?

J: Di dalam olahraga seharusnya tidak ada yang tidak bisa diselesaikan. Makanya saya sedih sekali ada yang sampai BAORI dan lain-lain. Kita sih harapannya tidak pernah muluk, tapi kenapa tidak pernah selesai.

***

Nama: Rita Subowo
Lahir: 27 Juli 1948
Pengalaman di organisasi olahraga:
- Wakil presiden FIVB 2006-2010
- Presiden Bola Voli Internasional untuk Asia 2002-2009
- Ketua Umum KONI dan KOI 2007-2011
- Ketua Umum KOI 2011-sekarang
- Executive board member OCA 2006-sekarang



(fem/a2s)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads