Lolos Pelatnas Saja Negosiasi, tapi Indonesia Patok Target Tinggi

Menuju Asian Games 2014

Lolos Pelatnas Saja Negosiasi, tapi Indonesia Patok Target Tinggi

- Sport
Jumat, 29 Agu 2014 10:01 WIB
Lolos Pelatnas Saja Negosiasi, tapi Indonesia Patok Target Tinggi
Ryan Pierse/Getty Images
Jakarta - Dihapusnya perahu naga dari Asian Games membuat Indonesia harus menata ulang bidikan medali emas. Kelompok cabang olahraga permainan digadang-gadang sebagai lumbung emas Asian Games XVII/2014 di Incheon, Korea Selatan. Tapi persiapan ala kadarnya dan kelolosan cabor ke pelatnas pun jauh dari ideal. Mampukah?

Di Asian Games XVI di Guangzhou, China empat tahun lalu, kelompok cabang olahraga (cabor) terukur menjadi donator medali emas terbanyak. Sebanyak tiga dari empat medali emas dituai kontingen Indonesia diraih dari kelompok cabor ini. Ketiga emas itu diraih dari perahu naga. Satu emas lainnya disumbangkan bulutangkis, kelompok cabor permainan.

Kini menjelang pelaksanaan Asian Games ke-17 yang dihelat mulai 19 September sampai 4 Oktober, cabor permainan yang jadi tumpuan. Tapi, Satuan Pelaksana (Satlak) Program Indonesia Emas (Prima) malah setengah hati menggarapnya. Aturan yang dibuat dilanggar sendiri.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tak usah bicara proses pemusatan latihan nasional (pelatnas) yang amburadul, prestasi di ajang internasional cabor permainan juga tak meyakinkan. Malah, jika menilik parameter yang ditetapkan syarat minimal tak dicapai. Aturan kalah oleh negosiasi.

Satlak Prima membuat aturan umum cabor ke Asian Games hanyalah mereka yang memenuhi kriteria. Yakni, meraih medali emas ke SEA Games 2013, tiga besar kejuaraan dunia dan Asia, minimal perunggu Asian Games 2010, dan limit waktu cabor terukur.

Tapi bagaimana kondisi di lapangan? Sepakbola yang hanya meraih perak SEA Games 2013 mendapatkan tiket pelatnas dan dipastikan mewakili 'Merah Putih' ke Incheon. Setali tiga uang, tenis yang terdegradasi dari grup I Piala Fed zona Asia/Oceania juga dikirim. Sulit mengukur level prestasi Indonesia di antara negara-negara Asia Tenggara karena tenis tak dipertandingkan di SEA Games.

Begitu pula voli pantai, sulit mengukur prestasi karena tak ada di SEA Games Myanmar. Sepak takraw yang hanya mendapatkan dua perak dan empat perunggu di SEA Games juga bisa jadi bagian pelatnas. Soft tenis menjadi tumpuan dengan hitungan tak terlalu diminati negara lain.

Hanya bulutangkis yang memenuhi kriteria tersebut. Tapi, nada pesimistis juga tak lepas karena dua nomor andalan malah diterpa cedera. Jauh-jauh hari, PP PBSI juga menyebut kekuatan bulutangkis Asia sudah merata. Tak hanya China yang jadi pesaing utama. Muncul Jepang dan Thailand yang kuat di sektor putra dan putri, juga tuan rumah Korea Selatan yang menguasai nomor ganda.

Kondisi itu tak mengurangi optimisme Satlak Prima mematok target emas. Mereka pede bisa membawa pulang empat di antara sembilan emas dari cabor permainan.

Bulutangkis tetap jadi tumpuan terbesar, dengan diharapkan menyumbangkan dua emas. Emas lainnya diharapkan datang dari soft tenis (satu emas), voli pantai (1). Lima emas lainnya diharapkan dari kelompok cabor lainnya: rowing, balap sepeda, angkat besi, boling dan berkuda.

"Kalau saya sih tetap optimistis bulutangkis dan soft tenis bisa raih medali emas. Begitu juga untuk voli pantai. Selama ini mereka kan selalu menjadi finalis, saya harap kali ini mereka bisa mendapat emas. Meski pada akhirnya mereka menargetkan perak lebih dulu,” kata Mimi Irawan, ketua kelompok cabor permainan, kepada detikSport.

“Yang tidak yakin justru tenis. Mereka optimistis medali emas di ganda putranya, tapi saya justru agak meragukan. Ini dilihat dari kurang kompaknya dari pasangan-pasangan ini, selain itu kondisi latihannya juga sendiri-sendiri. Makanya minimal dapat perunggu saja sebenarnya sudah bagus.

"Sementara cabang lain seperti sepak takraw memang targetnya hanya medali. Soft tenis yang saya pikir bisa memberi kejutan. Sebab negara yang ikut sedikit,” ujar wanita yang pernah menjabat ketua bidang pertandingan di PP PBSI itu.

Tapi kelompok cabor terukur memang tak bisa menjanjikan medali lebih banyak daripada empat tahun lalu. ‎Koordinator cabang terukur Satlak Prima Hadi Wihardja mengakui adanya perubahan soal cabang andalan ini.

"‎Ya, karena nomor unggulan di cabor terukur dragon boat itu tidak dilombakan. Walau sebenarnya cabang permainan itu dari dulu mestinya unggul tapi memang fluktuasi. Tapi sama saja kok, yang penting kan Indonesia," kata Hadi.



(mcy/fem)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads