Jauh-jauh dari Malaysia dan Singapura untuk Ikuti Bromo Marathon

Jauh-jauh dari Malaysia dan Singapura untuk Ikuti Bromo Marathon

- Sport
Sabtu, 06 Sep 2014 12:02 WIB
Jauh-jauh dari Malaysia dan Singapura untuk Ikuti Bromo Marathon
Mercy Raya/DetikSport
Jakarta - Bromo Marathon tak hanya diramaikan oleh peserta dari Tanah Air. Adapun peserta yang rela jauh-jauh datang dari Malaysia dan Singapura untuk mengikuti kompetisi ini.

Adalah Yazid KS (33), warga Singapura dan Alif Rachman (25), warga Malaysia.

Mereka bersama peserta lainnya sudah memadati kawasan Wonokitri untuk melakukan pendaftaran ulang Bromo Marathon yang akan bergulir pada Minggu (7/9/2014).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Awalnya saya dikasih tahu teman kalau ada Bromo Marathon. Dia tahu saya suka ikut lomba lari makanya saya dikasih link dari facebook untuk mengetahui cara-cara mendaftar. Akhirnya saya bisa ikut di sini," kata Yazid ketika berbincang-bincang dengan detikSport, Sabtu (6/9/2014).

Yazid datang bersama dua orang temannya asal Malaysia, jumat (5/9) pukul malam. Tiba di Surabaya, Jawa Timur pukul 03.00 WIB, mereka menempuh perjalanan 4 jam untuk sampai ke pendopo Wonokitri.

"Wah perjalanan sampai kesini sangat panjang. Gila," selorohnya seraya tertawa.

Maklum, ini kali pertama bagi Yazid dan kedua temannya menginjakkan kaki di kawasan Bromo. "Sangat bagus dan indah," aku pria asal Singapura ini.

Alif mengungkapkan hal senada, pria yang bekerja sehari-hari sebagai pegawai bank di Malaysia ini sangat antusias bisa berlari sambil menikmati keindahan alam gunung Bromo.

"Saya pernah lihat gunung Bromo lewat instagram oleh karenanya saya tidak ingin buang kesempatan untuk ikut ambil bagian dalam lomba ini. Saya senang melancong juga," ujar Alif yang ikut nomor lari full marathon ini.

Berbagai persiapan pun mereka lakukan untuk bisa menghadapi kondisi medan yang menantang. "Saya sudah persiapan sejak tiga bulan lalu. Saya lari di treadmill dan di luar untuk mengatur pola pernafasan dan lari saya," aku Alif.

"Kalau saya lari 3-4 kali seminggu. Sayangnya di Singapura tidak ada gunung hahaha, jadi saya adaptasi kondisi lapangan Bromo dengan mencari bukit-bukit. Walaupun bukit di Singapura tetap saja beda dan tidak bisa dibandingkan dengan bukit di Indonesia yang tinggi-tinggi," timpal Yazid.

"Tapi saya punya target untuk catatan waktu. Minimal 6 jam saya bisa sampai finish," tambah pria yang ikut full marathon ini.

Lain Yazid dan Alif, lain juga dua peserta asal Bali ini. Made Rendra, 27 tahun, asal Bali ini baru pertama kali mengikuti lomba lari Bromo Marathon.

"Saya baru pertama kali ikut Bromo Marathon. Tahun lalu sempat pengen ikut tapi batal karena ada kerjaan. Makanya sekarang baru bisa," cerita Made dalam kesempatan terpisah.

Tiba pukul 06.00 WIB, dia bersama empat orang temannya harus menempuh perjalanan 12 jam untuk bisa mencapai lokasi Bromo Marathon. "Kami tadi naik bis dari Bali, lumayan panjang perjalanannya ya hahaha," ucap dia sambil tertawa.

Bagi Made, ini pertama kalinya menginjakkan kaki ke Bromo. Dia ikut lomba ini pun pengaruh dari temannya yang sudah lebih dulu menjajal Bromo Marathon tahun lalu.

Kondisi medan yang menantang serta oksigen yang cukup tipis karena berlari di kawasan pegunungan menjadi tantangan tersendiri buatnya. Maka itu, ia sudah mempersiapkan diri dengan latihan lari di dekat rumahnya.

"Latihan lari seminggu tiga kali di dekat rumah. Biasanya lebih cari daerah yang jalanannya menanjak, karena dengar dari teman-teman medannya cukup berat. Ada yang menanjak dan turunan juga," tuturnya.

Senada, Ngurah Oman, 35 tahun mengaku tak sabar menunggu hari esok, saat pertandingan. Ia yang sudah pernah mencoba Bromo Marathon 2013 jadi ketagihan untuk mencoba lagi. Bahkan ia punya target pribadi soal catatn waktunya.

"Wah kalau Bromo tahun lalu catatan waktu saya 5 jam 40 menit, lama sekali. Ya kalau sekarang inginnya lebih baik lagi. Paling tidak 15 menit lebih cepat," ujarnya seraya tertawa.
Tak hanya itu dari segi persiapan dirinya mengaku lebih siap, ketimbang tahun lalu. Tentunya dengan porsi latihan yang lebih banyak lagi.

"Satu minggu minimal saya lari 60 km. Kalau pola makan engga terlalu. Ya mudah-mudahan bisa lebih cepat dan capai finish," harap pria yang sehari-hari bekerja sebagai Web programmes di Bali ini.

Bromo Marathon ini memasuki edisi yang edisi kedua. Lomba ini mempertandingkan tiga nomor yakni 10K (10 km), half marathon (21,097 km), dan full marathon (42,195 km).

(mcy/rin)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads