Di tengah upaya untuk bisa meraih medali emas pada Asian Games 2014, tim berkuda dan rowing justru minim mendapatkan dukungan. Kedua tim itu berangkat ke Incheon, Korea Selatan, dengan biaya sendiri.
Tidak adanya bantuan dana dari pemerintah itu disampaikan oleh Manajer Tim Berkuda, Prasetiono Sumiskum, ketika dihubungi detikSport, Rabu (10/9/2014). Ia mengatakan, tim berkuda sudah berada di Incheon sejak Jumat (5/9) supaya kuda-kuda mereka bisa beradaptasi. Namun, hingga saat ini anggota tim dibiarkan untuk mengurus kebutuhannya sendiri. Bahkan untuk tempat menginap.
"Sampai saat ini atlet tinggal di apartemen karena atlet village yang di Incheon belum dibayar sama sekali. Jadi, atlet kami belum bisa menginap di sana," kata Tion-panggilan akrab Prasetiono Sumiskum.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Biaya yang ditanggung pun tidak murahβ. Dibutuhkan sekitar 250 euro per hari, ini belum termasuk biaya empat orang perawat kuda sebesar 800 euro per hari dan 123 euro per hari untuk biaya satu orang dokter.
"Dokter sama perawat kuda memang tidak masuk SK (Surat Keputusan) sehingga biaya memang ditanggung sendiri. βTapi, 'kan harusnya untuk biaya lainnya bisa dipenuhi seperti penginapan. Tapi, kami harus menanggung sendiri sampai waktu yang belum tahu kapan akan dibayarkan," kata Tion.
Tim rowing, yang mengirimkan atletnya βSenin (8/9) kemarin, juga mengalami kondisi yang tak jauh berbeda dengan tim berkuda.
Manajer tim rowing, Budiman Setiawan, mengatakan butuh biaya sekitar 17 ribu dolar AS untuk biaya keberangkatan para atletnya ke Incheon. Termasuk di dalamnya biaya penginapan, makan, dan lainnya hingga atlet village dibuka 15 September nanti.
"Sampai saat ini PB PODSI yang membiayai kebutuhan semua saat atlet berada di sana. Seperti penginapan, transport, makan, dan tiket. Penginapan pun cari hotel yang murah dekat venue sampai nanti atlet village dibuka."
Baik berkuda maupun rowing memang memerlukan adaptasi di Incheon. Pasalnya, kondisi tempat latihan dengan lokasi pertandingan yang akan mereka lakoni di Korea jauh berbeda.
"βKami butuh aklimatisasi untuk mencapai peak perfomance. Biasanya kami latihan di ketinggian 1.500 mdpl (meter di atas permukaan laut) sementara di Korea kami akan bermain di ketinggian 350 mdpl. Bisa dibilang kadar oksigennya lebih tipis sehingga kami perlu berangkat lebih dulu untuk adaptasi," urainya.
Tion pun mengungkapkan hal senada. Adaptasi diperlukan untuk meraih kondisi terbaik saat di Korea nanti. "Ya, kebetulan atlet-atlet kami sudah senior semua sehingga untuk masalah seperti ini pihaknya sudah fight dan tidak terganggu mentalnya. Dari awal mereka kan berjuang untuk meraih medali dan kami tetap optimistis bisa," kata Tion.
(mcy/roz)











































