Gulat akan mengirimkan dua wakilnya ke Incheon dalam waktu sepekan kedepan. Mereka adalah Kusmo Hadi Saputra nomor greco Roman -74 kg, dan Fahrjansyah di nomor bebas kelas -84 kg.
Keduanya melakoni pemusatan latihan yang berbeda-beda, termasuk lokasinya. Kusno di Samarinda, Fahrjansyah di Banjarmasin.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Angan-angan kita memang inginnya seperti itu (medali perunggu). Tapi karena belum pernah try out, kami sendiri jadi tidak yakin. Kami tidak bisa mengukur kekuatan kami sendiri, bahkan sampai sekarang," kata pelatih gulat nasional, Bunyamin, saat dihubungi, Kamis (18/9/2014).
Tentang ujicoba, Pengurus Besar Persatuan Gulat Seluruh Indonesia (PB-PGSI) awalnya berencana untuk melakoni beberapa uji tanding di Korea selama sepuluh hari, kemudian dilanjutkan bertanding di Incheon. Namun rencana itu batal terlaksana karena tidak ada restu dari Satlak Prima. Selain itu, kondisi kepengurusan yang akan berganti membuat program pelatihan sedikit terganggu.
"Dari awal saya selalu bilang, kami ini 'kan dipersiapkan untuk Asian Games. Jadi minimal ada waktul ah untuk latih tanding. Tapi kondisinya justru seperti ini, persiapan kurang dan ujicoba tak ada," ungkap Bunyamin.
Dia menambahkan, hampir 90 persen cabang olahraga gulat dikuasai negara-negara Asia seperti Korea Utara, Jepang, India, dan Iran. Sementara Indonesia sendiri berada di posisi 20 besar.
Hal ini pula yang akhirnya membuat dirinya semakin tidak yakin untuk meraih medali. Kendati demikian dirinya tetap berharap atletnya untuk tampil oke saat di pertandingan nanti.
"Yang jelas saya sendiri tidak terlalu ambisi untuk raih medali, karena kansnya sangat berat. Tapi saya tetap berharap agar atlet kami ini bisa memberikan yang terbaik, karena sebenarnya hasil di lapangan yang menentukan," simpulnya.
(mcy/a2s)










































