Maria Londa segera berlomba di level yang lebih tinggi. Setelah meraih sukses besar di SEA Games 2013, ia kini menatap Asian Games 2014.
Atlet lompat jangkit putri asal Bali itu mendulang medali emas dan juga membuat rekor baru di SEA Games di Myanmar akhir tahun lalu, dengan lompatan sejauh 14,17 meter. Ia melampaui rekor sebelumnya, 14,08 meter, atas nama atlet Thailand, Thitima Muangjan, di SEA Games 2009 di Laos.
Atas prestasinya itu Maria juga dinobatkan sebagai salah satu atlet terbaik oleh Komite Olimpiade Indonesia (KOI) pada bulan Maret lalu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Persiapan Maria menuju Incheon sudah jauh lebih meningkat. Khusus lompat jauh, catatan terakhir lompatan di lintasan gravel (tanah) Maria mencapai 6,10 meter dari yang sebelumnya 5,85 meter," kata pelatih lompat jauh dan lompat jangkit Indonesia, Ketut Pageh.
"Begitu pula dengan lompat jangkit, saya pikir sudah mencapai tahap 95 persen. Artinya sudah siap tempur, tinggal 5 persen peak-nya di lapangan. Ya, mudah-mudahan nanti di sana (Incheon) tidak ada kendala angin dan fisik, karena yang kami khawatirkan adalah adaptasi cuaca," tambahnya.
Diungkapkan Ketut, berdasarkan hasil Kejuaraan Nasional atletik di GOR Rawamangun, beberapa waktu lalu di nomor lompat jauh Maria hanya berhasil membukukan catatan 6,33 meter. Sementara yang ditargetkan adalah 6,40 meter.
Sementara di lompat jangkit Maria hanya mencapai 13,71 meter, masih jauh dari hasil dirinya saat di SEA Games di Myanmar.
"Sebenarnya kemarin saya target di Kejurnas atletik di Rawamangun Maria bisa mencapai 6,40 meter. Tapi karena ada kendala angin kencang. Akhirnya kami tidak bisa mengevaluasi di mananya yang salah," jelasnya.
"Dari awal mestinya Maria tinggal siap tempur saja. Toh teknik dasar, teknik khusus, speed (kecepatan), hingga ending-nya sudah masuk semua. Tapi karena kondisi alam jadi bisa apa," tambahnya.
Asian Games 2014 akan resmi dibuka malam ini. Adapun cabang atletik baru akan dipertandingkan mulai 27 September.
Ketut juga mengatakan, pihaknya berharap cuaca di Incheon bagus, terutama kondisi angin, karena hal itu bisa pula mempengaruhi performa dan lompatan atlet. Namun, paling tidak stadion di Incheon nanti bukan outdoor, melainkan semi-indoor.
"Ya 20-30 persen hasil tergantung sama kondisi anginnya juga. Tapi waktu latihan di Bali kemarin saya sudah belajar antisipasi angin. Jadi kalau posisi saya melawan angin strateginya harus bagaimana. Sebaliknya, tidak ada angin strateginya harus bagaimana. Karena angin itu di lain sisi bisa membantu, di sisi yang lain juga bisa menghalang. Tergantung atletnya berstrategi," ujar Maria.
(mcy/a2s)











































