Boling gagal memenuhi ekspektasi untuk menyumbangkan medali emas di Asian Games ke-17. Mengirimkan peboling-peboling terbaik tanah air, boling hanya bisa membawa pulang dua perunggu.
Sempat optimistis mengusung target satu emas, pada perjalannya pelatih boling Thomas Tan menjadi tak yakin. Sebab, peralatan yang dinantikan tak juga datang hingga lima hari menjelang keberangkatan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya sempat bicara dengan konsultan boling, kalau peralatan tak tersedia lebih baik tak usah berangkat. Toh, kalau gagal kita juga yang disalahkan padahal mereka tak tahu kondisinya seperti apa," ucap Thomas kala itu.
Tapi, kementerian pemuda dan olahraga menilai keterlambatan itu sebagai hal yang wajar. Deputi IV Bidang Peningkatan Prestasi Kemenpora Djoko Pekik menyebut jika pihaknya tak bisa menemukan peralatan itu sendiri dan harus berkoordinasi dengan pengurus cabang olahraga. Minimnya anggaran untuk peralatan menjadikan proses negosiasi butuh waktu cukup panjang.
Mantan pebulutangkis yang juga pernah menjadi staf ahli menteri pemuda dan olahraga Ivana Lie heran dengan keterlambatan itu. Sebab, Asian Games dan SEA Games bukanlah ajang dadakan. Lagipula, kementerian pemuda dan olahraga bukanlah lembaga baru. Begitu pula, pengurus cabang olahraga, KONI, dan KOI.
"Tidak semestinya lelang peralatan untuk latihan dan pertandingan terlambat dilakukan. Bukankah pelaksanaan Asian Games sudah direncanakan jauh-jauh hari?" kata Ivana.
"Bisa sampai muncul sindiran, 'tidak ada dukungan maksimal kok mau medali'. Kalau kondisi itu tak dirasakan bersama-sama tidak mungkin kalimat itu muncul di kalangan atlet.
"Jangan lagi atlet dibikin keki menunggu-nunggu peralatan datang. Lihat jadwal event yang mau dijalani, kemudian hitung mundur," pesan Ivana.
(fem/krs)











































