Sebagian peralatan latihan dan tanding untuk pelatnas datang terlambat, sebagian bahkan sangat terlambat. Tender pengadaan barang dinilai sebagai penyebabnya.
Kabar mengejutkan datang dari pengakuan Sekretaris Kementerian Pemuda dan Olahraga, Alfitra Salamm, dalam acara Sarasehan dan Dialog Evaluasi Hasil Asian Games 2014, di Hotel Twins, Jakarta, Rabu (8/10/2014).
Dalam dialog tersebut terungkap penyebab peralatan menjadi terlambat adalah akibat pemenang tender tidak melakukan kewajibannya sebagai penyedia peralatan, karena perusahaannya bodong.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nyatanya, meski proses tender untuk penyediaan kebutuhan atlet sudah dilakukan, termasuk pengumuman lelang, hal itu tak menjamin proses penyaluran peralatan lancar. Bahkan hingga atlet sudah kembali dari Incheon, peralatan juga tak kunjung datang.
"Iya, ternyata saat diminta pertanggungjawaban soal peralatan, pemenang tender ini diketahui tidak punya dana. Itulah yang menyebabkan akhirnya peralatan sampai sekarang belum ada,β kata Alfitra.
Dalam hal ini pemerintah dikritik karena lalai dalam memverifikasi setiap peserta tender. Padahal jika menyesuaikan aturan, setiap perusahaan yang hendak mengikuti proses tender sedianya harus lolos verifikasi oleh tim khusus. Verifikasi ini penting untuk melihat kelayakan dan kesiapan perusahaan dari segi finansial dan hal lainnya.
Jika sudah dievaluasi, maka bisa diumumkan siapa pemenangnya lewat penawaran harga terendah. Itu pun tidak sepenuhnya selesai. Jika ada para penawar yang tidak setuju, maka akan ada proses sanggah.
Ketua Umum PB Persatuan Sepak Takraw Indonesia (PSTI), Anjas Rivai menyayangkan soal keterlambatan peralatan yang terus kembali terulang. Ia bahkan mengaku kecewa karena sampai tertipu oleh oknum yang mengaku dari perusahaan pemenang tender peralatan latih dan tanding Asian Games. Sebabnya, ia sudah menalangi lebih dulu pembelian peralatan tersebut.
"Jadi ada oknum pemilik perusahaan, namanya Trika. Ia datang kepada saya untuk minta tanda tangan. Ini sebagai bukti kalau peralatan yang saya beli dengan dana sekian benar adanya. Katanya mau ditransfer Sabtu, tapi karena libur akhirnya diundur Senin. Sayangnya, sampai sekarang tidak ada transferan uang tersebut. Bahkan dokumen saya sampai sekarang tidak dikembalikan oleh si owner perusahaan," bebernya.
Selain sepak takraw, cabang lain yang juga menagih peralatan adalah boling, soft tenis, balap sepeda, dan panahan.
"Kami 'kan PB punya induk. Ada KONI, KOI, dan Kementerian. Mereka yang punya regulasi untuk melakukan tender tersebut maka kita kembalikan dulu ke pintu awalnya. Kalau di sana pakai langkah hukum sebagainya, ya kami akan lakukan atas saran mereka," urainya.
"Mungkin, dari segi menteri olahraganya akan berganti dalam waktu dekat. Tapi 'kan tidak pada jajarannya. Masih ada deputinya. Ini akan terus kami tanyakan. Tidak bisa begini. Ini dosa siapa? Makanya kita bicara. Dua minggu ke sinilah. Kami mau menagih."
Menanggapi hal itu Alfitra mengajak para pengurus cabang olahraga untuk mengajukan tuntutan terhadap pemenang tender tersebut.
"Ya kami mengajak para pengurus olahraga untuk mengusut bersama si pemenang tender tersebut," ujarnya.
(mcy/a2s)











































