Contoh sukses tiga pegolf Indonesia yang sudah mencicipi beasiswa di negeri 'Paman Sam' lewat jalur olahraga golf adalah George Gandranata, William Sjaichudin, dan juga Rory Hie.
George mendapatkan beasiswa dari Universitas California, Berkeley, California, hingga jenjang doktor. Tapi, pegolf 28 tahun itu hanya melanjutkan studi sampai tingkat master.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Golf bisa menjadi sebuah opportunity. Kalau di Thailand tahun lalu ada delapan yang terpilih mendapatkan scholarship. Di Indonesia sebenarnya sudah ada, tapi belum diketahui umum," ungkap Christine di sela-sela perlombaan ajang Indonesia Open di Damai Indah Golf, Kamis (4/12/2014).
"Kalau umum sudah mengetahui, mungkin bakal banyak yang tertarik. George, Rori, William, tiga-tiganya kuliah gratis. Programnya sudah lama, tapi di Indonesia belum banyak diketahui."
"Setiap tahun dipilih tujuh-delapan orang, cukup banyak. Semuanya gratis, beasiswa. Karena di AS ada kompetisi seperti liga mahasiswa."
"Ranking akan menentukan seberapa bagus universitas yang akan menawari beasiswa. Sebagai contoh, juara SEA Games akan mendapatkan tawaran di universitas top," imbuhnya.
Soal cara mendapatkan beasiswa dari universitas di AS, George sedikit berbagi pengalaman. Dia juga memberikan saran pegolf yang akan mengajukan beasiswa agar bisa mempersiapkan diri sejak dini.
"Saya harus memberikan hasil nilai sekolah, dan juga hasil prestasi di golf juga. Jadi scholarship itu nanti kami bermain di sana. Kalau PGI mengirim pegolf dan hasilnya bagus mereka pasti tertarik. Mereka cuma ingin tahu apakah kami bisa bermain di Amerika," ucap George.
"Soal seleksi nanti menjadi hak prerogratif sekolah. Pegolf yang mengajukan, nanti kalau anaknya belum bisa, nanti PGI yang membantu."
"Prosesnya untuk mendapatkan scholarship itu selama 1,5 tahun. Jadi, untuk persiapannya bisa dimulai sejak dini, bisa kelas 3 SMP. Saya ditawari sejak kelas 2 SMA," imbuhnya.
(cas/mrp)











































