Mulai tahun depan Adrian, demikian ia biasa disapa, akan mewakili Indonesia di salah satu divisi dari ajang Moto2, yakni World Junior Championship 2015, dengan menunggangi motor 650cc. Ini bisa menjadi pintu gerbang untuk tampil di jenjang lebih tinggi, khususnya MotoGP.
Kesempatan itu sendiri tidak serta-merta ia dapatkan. Ada proses panjang yang mesti dilalui oleh kedua dari empat bersaudara kelahiran Tangerang, 29 September 1993 tersebut. Bahkan bisa dikatakan semua sudah berawal dari kedua orangtuanya. Ayahnya, Erin Rusmiputro, memiliki hobi motor cross. Sedangkan sang ibu, Ina Noor, juga tak tak asing dengan lintasan balap.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Maka tak heran jika pada usia yang masih amat belia, 3,5 tahun, Adrian sudah mulai menunjukkan ketertarikan terhadap dunia tersebut. Ia lantas mulai mengendarai motor cross pada usia 7 tahun dan sejak itu terus menggeluti dunia balapan.
Dalam adu cepat di lintasan, risiko-risiko tentu ada. Adrian juga mengaku sampai pernah mengalami cedera parah. "Saya merasakan patah tulang pernah, bahkan sampai urat kaki aku robek juga pernah."
Dituturkan Adrian, hal itu terjadi pada tahun 2011 lalu ketika ia hendak menggeber motor 250 cc dalam sebuah tes. Sayang, satu lap belum tuntas ia lahap sebuah kecelakaan sudah menyebabkan urat kakinya robek. Saat itu ia mesti dibawa dengan ambulans. Repotnya, keesokan harinya ia sudah punya jadwal untuk terjun di sebuah balapan level nasional.
"Pagi-pagi sempat ditanya papa, 'Mau ikut balap nggak?'. Tapi saya masih belum sadar. Hingga akhirnya saya terbangun dan bilang, 'Saya mau balapan'. Saya pergi ke kamar mandi loncat-loncat, dan berangkat pakai tongkat," kenangnya.
"Aku bilang ke diri sendiri, harus balap, harus balap. Jalan ke sirkuit aku melakoni medical chek up untuk mengetahui kondisi aku fit apa enggak. Ternyata aku boleh balap. Cuma waktu di atas motor memang getarannya sakit banget," aku Adrian.
Aksi-aksinya di lintasan, termasuk menyabet predikat runner-up Losail Asian Road Race Series (LARRS) tahun 2012, tak luput dari perhatian sosok-sosok di dunia itu. Kesempatan menuju fase berikutnya pun hadir lewat perkenalan Adrian dengan seorang pelatih bernama Simon Crafar ketika dirinya sedang melawat ke Spanyol guna melakoni balapan Junior Super Bike. Lewat Simon Crafar itulah pemuda yang juga menggemari tenis tersebut diperkenalkan kepada David Garcia, sosok yang kini pegang peran penting dalam kariernya.
"Waktu balapan Junior Super Bike itu, ada beberapa tim yang ingin mengontrak aku, bahkan sempat test dengan tim Suzuki. Di situ juga aku bertemu dengan pelatih yang namanya Simon Crafar, dia itu tinggal di Andora dan kenal dengan David Garcia," ungkap Adrian.
"Simon bilang ke David bahwa dia harus lihat saya. David lihat, pada hari kedua saya diajak ke kantornya dan ditanya segala macam. Soal ke depannya bagaimana, biasa balapan di mana, bagaimana Indonesia, balapannya bagaimana, pengenalan-pengenalan, hingga berujung pada ketertarikan dia (David) untuk merekrut saya masuk dalam timnya," bebernya.
David Garcia, yang juga pemilik International Circuito de Almeria Spanyol, tampaknya melihat potensi tertentu dalam diri Adrian. Pada prosesnya ia pun tertarik menggembleng Adrian secara profesional. Kontrak selama tujuh tahun pun disodorkan.
"Waktu David memberikan kontrak dan aku kirim kontraknya ke Indonesia untuk diterjemahkan lalu aku baca, ya semuanya aku setuju. Tapi waktu itu David juga bilang ada tiga hal yang tidak tertulis di kontrak, 'Pertama kamu harus latihan setiap hari, harus tinggal di Spanyol, dan kamu harus mengikuti peraturan saya'. Waktu 2010, saya punya mimpi ingin balapan di Moto2, latihan setiap hari, dan tinggal di Spanyol. Jadi konsekuensi yang ditawarkan David sebenarnya pernah jadi mimpi aku juga. Jadi aku enggak berpikir lagi, langsung Bismillah aja," tuturnya.
Rencananya, Adrian bakal segera bertolak ke Spanyol pada 21 Desember mendatang. Di sana ia akan melakukan beberapa test sebelum benar-benar turun membalap pada bulan April mendatang untuk menghadapi total delapan seri.
Targetnya?
"Aku bakal melakukan sebaik mungkin. Pasti di setiap race aku ingin mencoba finis di depan. Tapi berdoa saja karena keberuntungan juga berpengaruh. Ya, aku bakal mencoba sekeras mungkin. 10 besar bagus banget, lima besar lebih bagus lagi, tiga besar bagus banget, juara satu itu sempurna banget. Jadi kerja keraslah," tegas Adrian yang juga menyatakan impiannya tampil di MotoGP pada masa depan.
Fokus Adrian tersebut juga turut membuat dirinya sudah siap sedia menghadapi segala tantangan yang menanti. Termasuk soal "derita makanan" ketika nanti tinggal di Spanyol.
"Wah, sebenarnya kalau sudah di Spanyol aku suka lupa segalanya. Sudah di dunia yang aku mau. Tapi di sana aku ada chef dan aku juga bawa buku masakan Indonesia. Jadi kalau bisa masakin, ya, dimasakin. Yang aku minta selalu nasi uduk, sate, atau apa. Tapi dia (chef) enggak bisa masak gemblong, padahal itu makanan kesukaan aku. Namanya orang Indonesia, ya, jadi tidak bisa kabur dari makan Indonesia," ceplosnya.
Lantas bagaimana soal jaga badan? "Aku punya bagian nutrisi dua orang yang mengatur makanan aku, dan mental aku dan segala macam. Jadi kita memenuhi segala macam aspek yang bisa memenuhi kebutuhan. Semua hal kecil kami perhatikan. Intinya enggak ada pantangan makanan. Aku suka nasi uduk, nasi goreng, mie ayam, masih suka," papar Adrian.
(mcy/krs)











































