Di banyak negara, dukungan ilmu pengetahuan dan teknologi terbukti membantu meningkatkan prestasi atlet. Sayangnya Indonesia belum sepenuhnya menyadari pentingnya sport science, kondisi yang diperburuk dengan masalah non teknis.
"Coba kita lihat cabang renang. Di renang itu, Indonesia itu sudah dijegal Singapura, Thailand, ada Malaysia. Sementara kita paling-paling kalau dihitung kita nomor empat di Asia Tenggara. Atletik lebih parah lagi, Indonesia sudah di jegal Thailand dan Vietnam," ungkap Ketua Bidang Sport Science KONI Pusat, Zainal Abidin, dalam diskusi Kamisan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) di Kantor Kemenpora, Senayan, Kamis (18/12/2014).
Sport Science adalah disiplin ilmu yang mempelajari penerapan dari prinsip-prinsip science dan teknik-teknik yang bertujuan untuk menigkatkan prestasi olahraga. Jerman, China, Korea Selatan, dan Australia adalah beberapa negara yang sudah sangat intensif menginplementasikan iptek olahraga yang canggih. Itu kemudian berimbas pada terdongkraknya prestasi atlet mereka di berbagai cabang olahraga.
Β
Sayangnya, di Indonesia ilmu ini masih belum mendapat tempat. Kesadaran pengurus cabang olahraga dan pelatih akann pentingnya penerapan ilmu tersebut masih rendah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kegagalan Indonesia bersaing pada berbagai ajang multi event dalam dua tahun terakhir dianggap menjadi faktor yang harusnya menjadi pendorong Indonesia untuk secepatnya memaksimalkan penerapan sport science.
Zainal memberi contoh ketidaksadaran akan pentingnya sport science oleh pengurus cabang olahraga di Indonesia adalah ketika tidak pernah dilakukannya tes awal saat atlet usai libur latihan. Padahal tes awal itu penting untuk melihat tingkat fit seorang atlet setelah tidak lama berlatih.
Β
βYang saya lihat memang masih banyak PB-PB cabang olahraga atau pelatih yang masih belum menyadari soal sport science."
Β
"Jadi kalau kita mulai sistem pelatnas itu, harusnya itu dari titik nol. Di mana seorang atlet harus diukur tingkat FIT-nya (Frekuensi Intensitas Training) terlebih dulu sebelum masuk pelatnas dan melakoni program latihan yang diberikan pelatih. Bagaimana cara mengukurnya, ya, dites dulu."
"Kalau belum dites, bisa-bisa pelatih yang menerapkan latihan kepada atletnya terjadi overload, atau sebaliknya terlalu rendah, sebagai efek dari latihan yang diberikan pelatih. Nah tes inilah yang diperlukan untuk mengetahui perfoma waktu awal atlet sebelum melakoni program latihan yang diberikan atletnya. Itu harus kita ketahui, kalau tidak, maka akan sulit untuk mengetahui kemampuan si atletnya. Nah tes ini sebenarnya untuk mengetahui perfoma atlet, untuk intensitas atlet, dan untuk evaluasi hasil latihan. Jadi hal-hal yang kecil seperti inilah yang sebenarnya harus disadari dulu oleh kita untuk bisa bicara lebih soal prestasi," katanya.
Tapi Zainal juga menyadari kalau penerapan sport science di Indonesia bukan perkara mudah. Di samping kesadaran yang kurang dari PB maupun pelatih, Zainal Abidin juga menyoroti soal peralatan sport science yang masih minim.
βBelum lagi ada kendala lain seperti peralatan yang minim, atau swakelola, tender, dan semua prahara menghambat. Seperti dayung, sebenarnya mereka sudah mau menerapkan (sport science), cuma belum ada kemampuan dari segi peralatannya. Nah inilah yang harus didukung peralatannya, sembari terus menyadarkan cabang lain bahwa sport science itu penting," tuntasnya.
(mcy/din)











































