Memasuki periode 100 hari kabinet Joko Widodo, Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi dianggap belum memberikan hasil kerja nyata. Ia dinilai masih mengikuti atasannya dengan sering 'kerja di media' dan banyak aktivitas agenda seremonial.
"Belum ada gebrakan, belum terlihat. Menpora baru meraba-raba, melihat kondisi lapangan. Saya rasa baru cetak biru semua, hingga wujud asli belum kelihatan," ungkap pengamat olahraga Ari Junaedi dalam perbincangan dengan detiksport, Rabu (28/1/2015).
Secara umum Ari menilai kerja seorang menteri belum dapat dinilai hanya dalam periode 100 hari. Namun dari apa yang sudah dilakukan Menpora sejauh ini disebutnya masih jauh dari harapan publik. Penataan sepakbola nasional memang menunjukkan ke arah yang positif, namun itu belum terlihat di cabang olahraga lain.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Fakta bahwa Imam tidak memiliki latar belakang olahraga disebut Ari Junaedi bukan alasan kalau dia tidak bisa bekerja dengan cepat dan efektif. Dosen S2 Universitas Diponegoro itu menyebut Imam hanya perlu bersikap tegas terhadap beragam masalah di olahraga nasional. Sayangnya sejauh ini Imam dianggap masih sering melakukan hal-hal seremonial demi pemberitaan semata.
"Sebetulnya tidak perlu punya latar belakang olahraga, asal dia tegas dan punya orang-orang di sekitarnya yang bisa memberi masukan yang tepat. Bukannya mengikuti Jokowi, 'kerja di media'. Misalnya saat mencoba lintasan lari, padahal perbaikan kesejahteraan atlet juga harus diperhatikan. Sejauh ini (kerjanya) masih banyak dalam bingkai seremonial.
"Harusnya bisa seperti Jokowi: kerja cepat. Revolusi mental jangan cuma manis di bibir, tapi dijalankan," tegasnya.
(din/a2s)











































